SMK-PK dan Penguatan Literasi-Numerasi

Ket foto: Ilustrasi Guru-guru SMKN-PK 2 Tabanan (Sumber: barometerbali/Wayan Artika)

Denpasar | barometerbali – Kini memang gaung Gerakan Literasi Sekolah (GLS) lagi lemah, ”nyaris tidak terdengar”. Namun demikian, literasi dan numerasi tetap merupakan salah satu target dalam rapor pendidikan. Jika gema atau gaung GLS tidak lagi masif, sebagaima tahun-tahun sebelum pandemi maka rapor pendidikan tetap memberi perhatian pada kemajuan-kemajuan sekolah dalam GLS.

Program penguatan literasi dan numerasi di SMK-PK (Sekolah Menengah Kejuruan sebagai Pusat Keunggulan) justru menjadi arus penting baru GLS. SMK-PK secara ajeg mengembangkan GLS, yang lebih inovatif ketimbang GLS ala SD, SMP, dan SMA (sederajat) pada umumnya. Lewat SMK-PK, SMK-SMK (negeri dan swasta) di Bali tertantang menemukan terobosan baru dalam pengembangan GLS.

Sebut saja, SMKN-PK 2 Tabanan (di Desa Belayu, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan) telah mengembangkan program GLS yang mengintegrasikan literasi dan numerasi ke dalam pembelajaran, lewat sebuah workshop (24 Juli 2024).

Dengan program ini, SMKN 2 Tabanan telah menapaki tahapan penting GLS, yaitu dengan mengintegrasikan praktik-praktik baik literasi dan numerasi ke dalam pembelajaran. GLS tidak lagi terpisah dengan kegiatan belajar. Guru-guru semua mata pelajaran juga terlibat di dalam pengembangan budaya literasi dan pembangunan kebiasaan atau sikap baik atau positif terhadap numerasi.

Ada sejumlah pandangan yang keliru terhadap literasi dan numerasi yang sering dikumandangkan sebagai jargon GLS telah disadari keliru oleh para guru di sekolah ini.

Semula dipahami bahwa GLS hanyalah tanggung jawab guru bahasa (utamanya guru bahasa Indonesia). Semula GLS diterima sebagai kegiatan yang terpisah dan kurang relevan dengan materi pelajaran. Sebelumnya literasi selalu dikaitkan dengan membaca (bahkan hanya membaca buku). Membaca juga sudah cukup lama diidentikkan dengan literasi. Literasi hanya berhubungan dengan buku sebagai fasilitas terpenting. Terjadi pertentangan tajam antara literasi cetak dengan literasi digital. Esensi literasi tidak dipahami, yaitu literasi merupakan relasi antara manusia dan pengetahuan. Hal ini berhubungan dengan konstruksi, transmisi, dan konsumsi pengetahuan. Numerasi dipahami sebagai matematika formal. Semula hanya sampai pada pengertian bahwa literasi dan numerasi sudah terjadi ketika seseorang telah membaca. Masih ada satu tahap setelah memiliki pengetahuan. Yakni aksilogi pengetahuan itu. Kecakapan hidup!

Berita Terkait:  Bali Menggambar Peta Ruangnya Sendiri, Siapa yang Kehilangan Kenyamanan?

Kini literasi dipahami sebagai pengetahuan. Pengetahuan sangat penting dengan kehidupan manusia karena kebermanfaatannya. Manusia membangun pengetahuannya secara berkelanjutan dan historis, melewati tiga periode: lisan, tulis atau cetak, dan digital. Karena itu, membaca hanya salah satu jalan bagi manusia untuk mencapai pengetahuan. Bukan jalan satu-satunya menuju pengetahuan! Kalau mendefinisikan literasi adalah membaca maka ini mengacu kepada cara orang barat mendapat pengetahuan, terutama semenjak Eropa memasuki Zaman Pencerahan, yang ditandai dengan perkembangan pesat industri pengetahuan sejak mesin cetak ditemukan.

Kini literasi berhubungan dengan cara manusia mengkonstruksi, mentransmisi, dan mengkonsumi pengetahuan. Literasi tidak lagi sebatas membaca, menyimak, dan mengalami pengetahuan tetapi aksiologis (manfaat); pengetahuan itu harus memberi kecakapan hidup seseorang atau masyarakat.

Kini tidak ada alasan untuk menghindari numerasi. Hidup manusia dikelilingi oleh angka atau bilangan yang merepresentasikan keadaan data kuantitatif. Numerasi bukan matematika sebagai disiplin formal yang harus dihindari. Numerasi adalah matematika dalam kehidupan sehari-hari. Praktik matematika dalam kehidupan sehari-hari memang tidak bisa lepas dari keterampilan berhitung dan geomteri. Dasar numerasi adalah perhitungan-perhitungan matematika. Untuk membangun numerasi pada diri seseorang harus belajar dan berlatih matematika. Dalam kerangka GLS, yang paling bertanggung jawab secara formal terhadap numerasi adalah guru matematika. Kondisi-kondisi yang antibilangan, antiangka, dan antimatematika harus dihadapi dan diruntuhkan. Maka, dengan itu, fokus pembangunan numerasi di dalam kerangka GLS adalah bersahabat dengan angka, bilangan, dan operasi-operasi matematika praktisnya. Pandangan bahwa matematika itu sulit harus dirombak juga. Hal ini dilakukan dengan berlatih matematika secara berkelanjutan sampai terbentuknya kebiasaan dan sikap matematika pada diri seseorang.

Berita Terkait:  Isu Wisata Bali Sepi Terbantahkan, Bandara Ngurah Rai Tetap Padat Saat Nataru

Dengan adanya pemahaman baru atas literasi dan numerasi, guru-guru di SMKN 2 Tabanan berlatih menyusun program integrasi literasi dalam pembelajaran. Langkah awalnya adalah dengan menyusun perangkat pembelajaran literasi.

Prinsip integrasi literasi numerasi ke dalam pembelajaran adalah pengetahuan-pengetahuan apa saja yang terkait dengan materi-materi pelajaran di SMK. Prinsip ini dipahami dengan mengajak para guru membangun ”peta” pengetahuan mata pelajarannya sebagaimana dalam kurikulum. Setiap mata pelajaran pasti terbangun dari seperangkat pengetahuan yang satu sama lain berkaitan. Konstruksi pengetahuan dalam mata pelajaran berhubungan atau relevan dengan berbagai pengetahuan yang luas di luarnya.

Integrasi literasi dan numerasi adalah membangun kesadaran baru di kalangan guru untuk mengembangkan pengetahuan siswa dengan memberi pengetahuan-pengetahuan yang relevan dengan materi-materi yang dipelajari menurut kurikulum formal, dengan cara membaca dan menggunakan berbagai mode digital atau praktik.

Pengetahuan-pengetahuan yang berhubungan dengan materi pelajaran tidak untuk  menggantikan pengetahuan-pengetahuan materi pelajaran formal. Pengetahuan formal tetap sebagai pokok atau basis.

Agar lebih mudah dimengerti, integrasi literasi mengenalkan guru kepada sudut pandang lain atau wawasan lain terkait dengan materi pelajarannya. Contoh yang menarik mata pelajaran agama Hindu, pada materi manusia yadnya adalah peran even organizer dalam upacara perkawinan adat di Bali. Hal ini bisa berwujud pada masuknya gaya baru dalam upacara manusia yadnya, seperti prewedding dan catering-nya. Contoh lain dalam mata pelajaran kuliner dengan pokok materi dapur dan perlatannya sebagai sarana kuliner. Di sini yang diintegrasikan adalah pengetahuan sejarah dapur, peranan api  (ketika masa purba) dalam memasak, dan perkembangan peralatan dapur. Di sini guru sejarah dan guru kuliner bisa berkolaborasi dalam praktik baik integrasi literasi dalam pembelajaran kuliner dan sejarah.

Dalam workshop di SMKN 2 Tabanan, guru mengalami kendala manakala mengintegrasikan pengetahuan di luar mata pelajaran dan yang relevan, ke dalam pembelajarannya. Tampak para guru telah tergelenggu dalam konstruksi mata pelajarannya. Pembelajaran menjadi sangat sempit dan formal. Materi-materi pengetahuan yang ditulis pada buku pelajaran terisolasi. Orientasi guru ke ”dalam” materi-materi pelajaran formal yang ada di dalam buku pelajaran. Guru tidak memiliki kesadaran bahwa materi-materi di buku (kurikulum) berhubungan sangat luas dengan pengetahuan-pengetahuan dalam kehidupan yang dapat dijumpai dalam berbagai sumber, apalagi pada zaman digital.

Berita Terkait:  Menuju 2026: Alarm Zaman, Refleksi Media, dan Tanggung Jawab Wartawan bagi Bangsa

Integrasi literasi membebaskan guru dari belenggu materi pelajaran formal sebagai apa yang ditulis dalam buku. Kondisi pikiran guru yang terbelenggu itu, akan ditularkan kepada siswa. Siswa juga terbentuk sebagaimana gurunya yang terbelenggu atau terisolasi oleh materi pelajaran formal.

Integrasi literasi dalam pembelajaran membantu guru dan siswa dalam menemukan hubungan-hubungan pengetahuan dalam konstelasi yang luas.

Dalam workhop ini guru-guru SMKN 2 Tabanan belajar memahami struktur kurikulum ”besar”, kurikulum SMK sejalan dengan tujuan pokok satuan pendidikan ini. Kurikulum SMK dibangun oleh materi-materi pengetahuan yang praktis, bisa diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari pada dunia produktif dan industri. Di samping itu materi-materi pengetahuan umum masih tetap diberikan, seperti agama, bahasa, sejarah, dan matematika. Konstruksi kurikulum yang terdiri atas dua kutub (pengetahuan teori dan pengetahuan praktis) ini dapat dijadikan pedoman atau paradigma dalam melakukan integrasi literasi dan numerasi ke dalam pembelajaran.

Sejalan dengan konstruksi kurikulum dua kutub tersebut, integrasi literasi di SMK sebaiknya berkolaborasi antara guru-guru yang mengajar materi-materi vokasi dengan guru-guru materi pelajaran umum. Guru bahasa dengan pendekatan genre teks bisa berkolaborasi dengan guru kuliner dalam menarasikan budaya minum kopi di warung-warung kopi di Gayo (Aceh). Guru matematika menegaskan praktik matematika terapan dalam dunia kuliner, mislanya suhu yang paling tepat untuk nyeduh kopi atau perbandingan antara bubuk kopi dengan air dalam kopi expresso

Penulis: Dosen Undiksha, Instruktur Literasi nasional, Pegiat Gerakan Literasi Akar Rumput pada Komunitas Desa Belajar Bali, Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum.

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI