Barometer Bali | Buleleng – Kelangkaan Pertalite di Kabupaten Buleleng mulai berdampak langsung terhadap aktivitas nelayan. Puluhan nelayan di pesisir Pantai Bungkulan terpaksa menghentikan aktivitas melaut selama tiga hari terakhir akibat tidak tersedianya Pertalite di SPBU yang selama ini menjadi andalan mereka.
Salah seorang nelayan, Kadek Sukrawan (42), mengungkapkan dirinya bersama rekan-rekannya biasa membeli bahan bakar di SPBU 54.811.10. Namun, dalam tiga hari terakhir, SPBU tersebut kehabisan stok Pertalite sehingga perahu-perahu nelayan tidak dapat beroperasi.
“Sudah tiga hari kami tidak masuk laut. Kami cuma ambil Pertalite di satu SPBU itu saja, sudah tiga hari kami tidak melaut,” ujarnya, Senin (30/6/2026).
Kondisi tersebut membuat para nelayan kehilangan penghasilan harian. Mereka mengaku tidak memiliki alternatif lain untuk memperoleh bahan bakar sehingga memilih menunda aktivitas menangkap ikan hingga pasokan kembali tersedia.
Kelangkaan Pertalite juga mulai dirasakan masyarakat di berbagai wilayah Bali. Selain nelayan, sejumlah pengendara sepeda motor mengaku kesulitan mendapatkan BBM bersubsidi tersebut di beberapa SPBU.
Meningkatnya permintaan Pertalite diduga dipicu oleh beralihnya sebagian pengguna kendaraan dari Pertamax ke Pertalite setelah adanya penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Perubahan pola konsumsi ini diperkirakan menyebabkan lonjakan kebutuhan dalam waktu singkat.
Meski demikian, penyebab pasti kosongnya stok Pertalite di Buleleng masih dalam proses penelusuran pihak Pertamina.
Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengatakan pihaknya segera melakukan pengecekan di lapangan setelah menerima laporan terkait kelangkaan tersebut.
“Kami akan segera coba cek ke lapangan,” katanya saat dikonfirmasi.
Pertamina akan menelusuri penyebab kosongnya stok di SPBU yang menjadi lokasi pengisian bahan bakar nelayan sekaligus memastikan distribusi Pertalite dapat kembali normal.
Para nelayan berharap pasokan Pertalite segera pulih agar mereka dapat kembali melaut dan memperoleh penghasilan. Mereka juga meminta distribusi BBM bersubsidi untuk sektor perikanan menjadi perhatian khusus karena menjadi penunjang utama aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.
Jika kondisi ini berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan nelayan, tetapi juga berpotensi mengganggu pasokan hasil tangkapan ikan di wilayah Buleleng. (red)










