Suhu Malam di Bali Lebih Dingin, BMKG: Dampak Monsun Australia dan Puncak Musim Kemarau

Screenshot_20260531_181723_ChatGPT
Prakirawan Cuaca BMKG Wilayah VIII Denpasar, Luh Eka Arisanti, menjelaskan bahwa penurunan suhu udara pada malam hari dipengaruhi oleh beberapa faktor atmosfer, salah satunya gerak semu tahunan matahari dan aktifnya Monsun Australia. (barometerbali/ilustrasi)

Barometer Bali | Denpasar – Sejumlah warga Bali mulai merasakan suhu udara yang lebih dingin, terutama pada malam hingga pagi hari dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini merupakan fenomena yang lazim terjadi saat memasuki periode puncak musim kemarau, yakni pada Juni hingga Agustus.

Prakirawan Cuaca BMKG Wilayah VIII Denpasar, Luh Eka Arisanti, menjelaskan bahwa penurunan suhu udara pada malam hari dipengaruhi oleh beberapa faktor atmosfer, salah satunya gerak semu tahunan matahari dan aktifnya Monsun Australia.

“Fenomena suhu udara yang terasa lebih dingin di malam hari biasanya terjadi pada periode puncak musim kemarau, yaitu bulan Juni, Juli, dan Agustus,” ujar Luh Eka Arisanti.

Berita Terkait:  Pegadaian Perkuat Semangat Women in Motorsport Lewat Kartini Race 2026 di Mandalika

Ia menerangkan, saat periode tersebut posisi matahari berada di Belahan Bumi Utara (BBU), sehingga wilayah Indonesia yang berada di selatan garis khatulistiwa, termasuk Bali, mengalami defisit atau pengurangan intensitas penyinaran matahari.

Selain itu, Benua Australia saat ini sedang mengalami musim dingin yang menyebabkan tekanan udara di wilayah tersebut relatif lebih tinggi. Kondisi ini memicu pergerakan massa udara dingin dari Australia menuju Indonesia, termasuk melintasi Bali dan Nusa Tenggara.

Berita Terkait:  Empathy School Buka Suara: Bantah Tudingan Sepihak, Tegaskan Komitmen pada Pendidikan dan Proses Hukum

“Pada periode ini terjadi pergerakan massa udara yang sifatnya dingin dari Australia menuju Indonesia melewati wilayah Bali dan sekitarnya,” jelasnya.

Menurut Luh Eka, kondisi cuaca yang cenderung cerah dengan minim tutupan awan juga turut berperan dalam menurunkan suhu udara. Saat langit cerah, panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari lebih mudah dilepaskan kembali ke atmosfer pada malam hari.
Akibatnya, suhu udara di dekat permukaan terasa lebih dingin, terutama menjelang dini hari hingga pagi hari.

Berita Terkait:  KEK Keuangan Diminta Pindah ke Bali Utara, Demer Soroti Ancaman Ketimpangan

BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak khawatir karena fenomena ini merupakan siklus tahunan yang normal terjadi saat musim kemarau. Meski demikian, warga diimbau menjaga kondisi kesehatan, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, dengan menggunakan pakaian yang lebih hangat saat beraktivitas pada malam dan pagi hari.

Dengan masih berlangsungnya pengaruh Monsun Australia, suhu udara yang relatif lebih dingin diperkirakan masih akan dirasakan masyarakat Bali dalam beberapa bulan ke depan seiring berlangsungnya musim kemarau 2026. (red)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI