Barometer Bali | Gianyar – Menyikapi pemberitaan yang beredar di sejumlah media online terkait berbagai tuduhan terhadap Empathy School (ES), pihak sekolah melalui Communication Officer, Abi Ardianda, akhirnya menyampaikan klarifikasi resmi sekaligus menggunakan hak jawab sebagaimana diatur dalam Pasal 14 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Abi menegaskan, pihaknya menilai sejumlah pemberitaan tersebut disajikan tanpa proses konfirmasi yang memadai kepada institusi Empathy School. Bahkan, menurutnya, pemberitaan menggunakan diksi yang dinilai bersifat afirmatif sehingga membentuk kesan bahwa tuduhan yang disampaikan merupakan fakta yang telah terbukti.
“Kami menyayangkan adanya pemberitaan tanpa verifikasi berimbang yang berpotensi mengaburkan batas antara dugaan dan fakta. Hal ini dapat membentuk persepsi publik yang mengarah pada penghakiman terhadap Empathy School sebelum adanya pembuktian maupun klarifikasi dari pihak kami,” ujar Abi dalam pernyataan tertulisnya yang diterima barometerbali.com, Jumat (15/5/2026).
Ia menyebut, hingga surat klarifikasi tersebut diterbitkan, pihak Empathy School merasa belum memperoleh ruang dan waktu yang cukup untuk menyampaikan tanggapan resmi melalui jalur institusional sebelum informasi tersebut dipublikasikan secara luas.
Abi juga mengungkapkan, dalam beberapa bulan terakhir pihaknya merasa menjadi sasaran berbagai tudingan yang menurut mereka dilakukan secara terkoordinasi oleh pihak tertentu.
“Dokumentasi dan data terkait seluruh tuduhan yang berkembang saat ini sedang kami siapkan untuk disampaikan kepada instansi terkait, termasuk Direktorat Jenderal Imigrasi dan PERADI,” katanya.
Pihak sekolah menegaskan tetap berkomitmen menjalankan koordinasi dengan berbagai institusi pemerintah dan pihak terkait dengan itikad baik.
Berawal dari Homeschool Saat Pandemi
Dalam penjelasannya, Empathy School menyampaikan bahwa lembaga tersebut berawal dari sebuah homeschooling kecil di Pejeng Kangin, Gianyar, saat masa pandemi Covid-19. Program itu disebut dirintis oleh lulusan Harvard Graduate School of Education untuk dua anak dan berkembang menjadi komunitas pembelajaran di bawah Yayasan Abirama Alam Empati.
Pembina Yayasan, Muhammad Arsya Harryanto, menyebut konsep pendidikan yang dibangun bukan semata mengejar prestasi akademik, melainkan juga menumbuhkan empati dan kepedulian terhadap lingkungan.
“Bagi saya, Empathy School bukan hanya melahirkan penerus bangsa yang terdidik secara akademis, tetapi juga mengedepankan empati terhadap sesama, serta alam tempat kita tinggal. Saya bangga dapat menjadi bagian dalam perjalanan mulia ini,” ujar Arsya.
Empathy School juga menyampaikan bahwa posisi kepala sekolah, pimpinan kurikulum, tim keuangan, personalia, hingga pemasaran diisi warga negara Indonesia.
Klarifikasi Soal Afiliasi Harvard dan Stanford
Menjawab isu mengenai klaim afiliasi internasional, pihak sekolah menyatakan pendiri Empathy School memang merupakan alumni Harvard Graduate School of Education dan informasi tersebut disebut tercantum dalam buku “Designing Democratic Schools and Learning Environments: A Global Perspective” terbitan Palgrave Macmillan tahun 2024.
Selain itu, Empathy School menjelaskan sejumlah guru dan tim kepemimpinan telah mengikuti pelatihan Stanford Seed, program resmi dari Stanford Graduate School of Business untuk pengembangan kepemimpinan.
Menurut mereka, pelatihan tersebut bahkan dilakukan secara langsung di kampus Empathy di Gianyar.
Abi juga menjelaskan bahwa Empathy School merupakan pusat pembelajaran non-formal berbasis proyek yang menerapkan pembelajaran imersi alam dan pendekatan berbeda dari sekolah formal pada umumnya.
“Selama beroperasi kami menjalankan koordinasi aktif dan berkelanjutan bersama dinas pendidikan setempat, termasuk kunjungan, evaluasi, serta pertemuan perkembangan. Saat ini kami juga tengah menjalani proses menuju status formal,” katanya.
Libatkan Ribuan Guru dan Kolaborasi Sekolah Negeri
Dalam keterangannya, Empathy School juga menyampaikan sejumlah kontribusi pendidikan yang telah dilakukan. Disebutkan lebih dari 1.000 guru sekolah negeri di Indonesia mengikuti program pengembangan bakat sepanjang 2022–2024 yang digelar di kampus Empathy maupun sekolah negeri dengan dukungan dinas pendidikan.
Empathy School juga mengaku aktif menjalin kolaborasi dengan sekolah negeri setempat di Pejeng Kangin dalam berbagai kegiatan pendidikan maupun program lingkungan.
Sebagai komunitas pembelajaran progresif, Empathy School mengusung pendekatan pendidikan berbasis alam, kecerdasan emosional, pembelajaran berbasis proyek, hingga penguatan keterampilan hidup dengan pendekatan Nonviolent Communication (NVC).
Pihak sekolah menegaskan akan terus fokus menjalankan proses pendidikan sambil menghormati seluruh proses hukum dan mekanisme klarifikasi yang berlangsung. (red)










