Barometer Bali | Klungkung – Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak Candra Nirwana, Desa Pikat, Kecamatan Dawan tampil memukau dalam Parade Gong Kebyar pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di panggung terbuka Arda Candra Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar, Minggu (14/6).
Penampilan ini mendapat apresiasi langsung dari Bupati Klungkung, I Made Satria bersama Ny. Eva Satria dan Wakil Bupati Klungkung, Tjokorda Gde Surya Putra saat hadir menyaksikan pementasan Duta Kabupaten Klungkung tersebut. Acara ini juga turut dihadiri Gubernur Bali, Wayan Koster serta Kepala OPD di lingkungan Pemkab Klungkung.
Tampil bersama Duta Kabupaten Tabanan, Sekaa Gong Candra Nirwana menyuguhkan 3 (tiga) penampilan dihadapan ribuan penonton. Mengawali pementasan tersebut, Sekaa Gong Anak-Anak ini menampilkan Tabuh Kreasi Pepalungan “Sruwadi Anyar”. Sruwadi Anyar merupakan sebuah karya Tabuh Kreasi Pepanggulan yang mentransformasi pola-pola bebonangan klasik Klungkung kedalam
bentuk baru. Istilah Sruwadi/Nyeruwadi menjadi dasar pijakan dalam menggarap setiap pola musikal dari karya ini. Sruwadi dalam bebonangan klasik Klungkung, bermakna sebuah tanda perubahan musikal yang biasanya dilakukan oleh istrumen kendang. Perubahan yang dimaksud seperti, perubahan tanjek pola, perubahan sub-divisi, layaknya manipulasi musikal yang menjadikan pola-pola sederhana menjadi terkesan berubah lebih kompleks.
Kemudian imbuhan kata Anyar digunakan sebagai penanda bahwa karya ini memang benar-benar baru. Sehingga secara filosofis Sruwadi Anyar dimaknai oleh komposer sebagai sebuah “Simbol perubahan terhadap sesuatu yang lama menjadi sesuatu yang baru”. Karya ini juga menjadi simbol sebuah kelahiran jiwa baru atas jiwa yang lama. Semua manusia berhak melakukan sebuah perubahan. Sruwadi Anyar (sebuah kelahiran kembali menjadi sosok jiwa yang baru).
Usai tabuh kreasi dilanjutkan pementasan kedua menampilkan “Tari Panyembrama”. Tari Panyembrama ini berasal dari kata “Panyembrama” yang berarti penyambutan, di mana tarian tersebut terangkum pada gerak
tari yang melukiskan pribadi atau para tamu untuk ungkapan syukur, Tari Panyembrahma tercipta pada tahun 1970.
Menutup penampilan memukau yang terkahir yakni pementasan Dolanan yang berjudul “Mikat”. Dolanan ini mempunyai makna kearifan lokal dan kegiatan anak anak di Desa Pikat sampai saat ini masih tidak jauh dari kegiatan anak-anak terdahulu. Seperti memikat burung, bermain, dan belajar menari. Selain itu, juga mencerminkan kualitas lingkungan hidup yang baik untuk perkembangan generasi muda yang masih tetap berperan penting mempertahankan warisan budaya leluhur khususnya kesenian. Dimana dengan media kesenian akan bisa meningkatkan rasa persatuan dan mengenal sebuah proses untuk mencapai suatu hal yang diinginkan. (rah)










