Barometer Bali | Nusa Penida – Nusa Penida menjadi salah satu contoh penerapan sistem kelistrikan yang mengintegrasikan energi surya, penyimpanan energi, dan pembangkit konvensional dalam satu sistem. Penerapan tersebut ditinjau langsung oleh Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan bersama PLN untuk melihat pengoperasian Smart Microgrid dan Battery Energy Storage System (BESS) dalam mendukung pemanfaatan energi terbarukan sekaligus menjaga keandalan pasokan listrik bagi masyarakat.
Kunjungan berlangsung pada Selasa (15/9). Tim Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan yang terdiri atas Suryani, Rayaldi Muhammad, dan Tianni Sihotang meninjau pengoperasian Smart Microgrid dan BESS di Nusa Penida. Kegiatan tersebut turut didampingi Manager PLN UP3 Bali Timur I Made Arya, Manager PLN UP2D Bali Petrus Irwan Ichwansaputra beserta jajaran, PLN UID Bali, PLN Icon Plus, dan Indonesia Power.
Dari sisi pengaturan sistem, PLN UP2D Bali memberikan pendampingan teknis untuk melihat bagaimana berbagai sumber energi dapat dikelola secara terintegrasi. Tantangannya adalah memastikan masuknya energi terbarukan yang produksinya bergantung pada kondisi cuaca tetap dapat diimbangi dengan kebutuhan listrik masyarakat.
Manager PLN UP2D Bali, Petrus Irwan Ichwansaputra, mengatakan transisi menuju energi bersih perlu berjalan beriringan dengan keandalan sistem kelistrikan.
“Transisi menuju energi bersih harus berjalan beriringan dengan keandalan. Dari sisi pengaturan sistem, kami memastikan PLTS, BESS, dan PLTD dapat beroperasi secara terintegrasi sesuai kondisi sistem. Dengan pengelolaan tersebut, pemanfaatan energi terbarukan dapat terus dioptimalkan tanpa mengesampingkan kebutuhan masyarakat Nusa Penida akan pasokan listrik yang andal,” ujar Petrus.
Saat ini, sistem kelistrikan Nusa Penida didukung PLTS Suana berkapasitas 3,5 MWp dan BESS berkapasitas 1,8 MWh. PLTD tetap menjadi bagian dari sistem sebagai pembangkit konvensional yang mendukung keandalan pasokan listrik.
Produksi listrik dari PLTS tidak berhenti memberikan manfaat ketika matahari terbenam. Saat produksi energi surya tinggi, sebagian energi dapat disimpan di dalam BESS untuk kemudian digunakan ketika dibutuhkan, termasuk pada malam hari atau saat beban meningkat.
Smart Microgrid membantu mengatur pemanfaatan berbagai sumber energi tersebut sesuai kondisi sistem. Dengan pengaturan yang terintegrasi, energi dari PLTS, BESS, dan PLTD dapat dikelola secara lebih responsif mengikuti perubahan pasokan dan kebutuhan listrik.
Dalam rangkaian kunjungan, Tim Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan meninjau ruang kontrol Smart Microgrid untuk melihat sistem operasi, pemantauan, dan pengelolaan energi secara waktu nyata. Tim juga mengunjungi PLTS Suana serta Central Control Room untuk melihat pengoperasian sistem PLTD.
Suryani, mewakili Tim Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, mengatakan implementasi Smart Microgrid di Nusa Penida memberikan pembelajaran mengenai pengelolaan berbagai sumber energi dalam satu sistem yang terintegrasi.
“Implementasi Smart Microgrid di Nusa Penida memberikan pembelajaran penting mengenai bagaimana PLTS, BESS, dan pembangkit eksisting dapat dikelola dalam satu sistem yang terintegrasi. Pengalaman operasional ini dapat menjadi referensi untuk dikaji dan dikembangkan pada sistem kelistrikan lain dengan menyesuaikan karakteristik, kebutuhan, dan kondisi masing-masing sistem,” ujar Suryani.
Menurut Suryani, semakin besar pemanfaatan energi terbarukan, semakin penting pula kemampuan sistem kelistrikan dalam mengelola perubahan produksi energi dan menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan listrik.
Hal tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan sistem kelistrikan yang semakin adaptif. Integrasi pembangkit energi terbarukan dengan teknologi penyimpanan dan sistem kontrol cerdas memungkinkan pengelolaan energi dilakukan secara lebih fleksibel sesuai kondisi sistem.
Bagi PLN UP2D Bali, pengalaman operasional di Nusa Penida menjadi pembelajaran penting dalam menghadapi meningkatnya penetrasi pembangkit berbasis energi terbarukan. Pengaturan sistem dituntut semakin responsif agar berbagai sumber energi dapat bekerja secara optimal sekaligus menjaga keandalan pasokan bagi pelanggan.
“Ke depan, tantangannya bukan hanya menghadirkan semakin banyak energi terbarukan, tetapi juga memastikan seluruh sumber energi tersebut dapat dikelola selaras dengan kebutuhan pelanggan dan kondisi jaringan. Nusa Penida memberikan pengalaman nyata bagi kami dalam mengintegrasikan PLTS, BESS, dan pembangkit eksisting melalui pengaturan yang lebih cerdas. Pembelajaran ini menjadi bagian penting dalam mempersiapkan sistem kelistrikan yang semakin adaptif terhadap perkembangan energi terbarukan,” ujar Petrus.
Penerapan Smart Microgrid di Nusa Penida menunjukkan bahwa pengembangan energi bersih tidak hanya berkaitan dengan penambahan pembangkit energi terbarukan, tetapi juga kesiapan sistem dalam mengelola energi tersebut. Integrasi PLTS, BESS, dan pembangkit eksisting menjadi salah satu pendekatan untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan energi terbarukan dan keandalan pasokan listrik bagi masyarakat. (pln/rah)










