Barometer Bali | Denpasar – Penjualan ritel di Bali pada April 2026 tercatat masih menunjukkan tren positif. Hal tersebut tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali yang mencapai 125,6 atau tumbuh 6,5 persen secara tahunan (year on year/yoy), sekaligus tetap berada di zona optimis di atas level 100.
Dalam siaran pers yang dirilis Kantor Perwakilan <Bank Indonesia> Provinsi Bali, Rabu (21/5), pertumbuhan penjualan eceran juga meningkat 1,0 persen secara bulanan (month to month/mtm). Kondisi ini didorong meningkatnya aktivitas masyarakat selama libur panjang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Jumat Agung serta berbagai festival daerah di Bali.
Kegiatan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) di Kabupaten Gianyar dan Klungkung disebut turut mendorong konsumsi masyarakat, khususnya pada subsektor barang budaya dan rekreasi seperti mainan anak, alat tulis, alat olahraga, hingga alat musik.
Selain itu, konsumsi masyarakat juga masih relatif kuat pada sektor kebutuhan rekreasi, gaya hidup, elektronik, dan perlengkapan rumah tangga selama momentum libur panjang.
Survei Penjualan Eceran (SPE) Bali sendiri merupakan survei bulanan terhadap 100 pedagang eceran di Kota Denpasar dan sekitarnya untuk melihat arah pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi masyarakat.
Berdasarkan tujuh komponen pembentuk IPR, pertumbuhan tertinggi terjadi pada kategori suku cadang dan aksesori yang naik 3,9 persen (mtm). Disusul barang budaya dan rekreasi sebesar 3,3 persen, bahan bakar kendaraan bermotor 2,6 persen, serta makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,4 persen.
Sementara itu, kelompok sandang tumbuh 0,3 persen, barang lainnya seperti farmasi dan kosmetik meningkat 0,2 persen, serta perlengkapan rumah tangga lainnya tumbuh 0,1 persen.
Dari sisi stabilitas ekonomi, inflasi tahunan Bali pada April 2026 tercatat sebesar 2,08 persen (yoy) dan masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen. Aktivitas perdagangan juga tetap ditopang pertumbuhan kredit lapangan usaha perdagangan yang hingga Maret 2026 tumbuh positif sebesar 1,09 persen (yoy).
Meski demikian, prospek penjualan ritel Bali diprakirakan sedikit melandai. Hal tersebut terlihat dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) Juni 2026 yang berada di angka 170, lebih rendah dibandingkan Mei 2026 sebesar 174. Prakiraan enam bulan mendatang atau September 2026 juga turun menjadi 184 dibandingkan Agustus 2026 sebesar 194, meskipun keduanya masih berada di zona optimis.
Bank Indonesia menyebut stabilitas ekonomi domestik tetap dijaga melalui kebijakan suku bunga acuan yang dipertahankan, serta dukungan pemerintah lewat subsidi BBM dan tarif dasar listrik. Selain itu, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Bali terus memperkuat strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif guna menjaga daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi Bali tetap berkelanjutan. (rah)










