Barometer Bali | Denpasar – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dinilai memberi peluang sekaligus tantangan bagi sektor pariwisata Bali. Pengamat Ekonomi Bali, Trisno Nugroho, menilai rupiah yang melemah memang membuat Bali terasa lebih murah bagi wisatawan mancanegara, namun tidak otomatis meningkatkan keuntungan industri pariwisata.
Menurut Trisno saat dihubungi barometerbali.com, Kamis (28/5/2026) ketika rupiah melemah, wisatawan asing memiliki daya beli yang lebih kuat karena mata uang mereka menjadi lebih bernilai saat dibelanjakan di Bali. Kondisi ini berpotensi meningkatkan pengeluaran wisatawan untuk restoran, spa, transportasi, atraksi wisata, hingga produk UMKM lokal.
“Wisatawan yang tiket pesawat dan akomodasinya sudah dipesan jauh hari akan merasakan tambahan ruang belanja saat tiba di Bali. Ini menjadi peluang bagi pelaku usaha untuk meningkatkan pendapatan dari layanan tambahan di luar kamar hotel,” ulas Trisno Nugroho yang menjabat sebagai Kepala Perwakilan (Kaperwil) Bank Indonesia Provinsi Bali selama periode 2019 hingga 2023 ini. Ini
Namun, Trisno mengingatkan bahwa manfaat tersebut hanya bersifat jangka pendek. Pelemahan rupiah tidak dapat dijadikan strategi utama dalam membangun daya saing pariwisata Bali karena nilai tukar dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti dinamika ekonomi global.
Di sisi lain, pelemahan rupiah juga meningkatkan biaya operasional industri pariwisata. Banyak hotel, restoran, vila, dan usaha wisata masih bergantung pada barang impor, mulai dari bahan makanan premium, peralatan, teknologi, hingga sistem digital yang terkait dengan dolar AS.
“Hotel bisa ramai, tetapi belum tentu lebih untung. Kenaikan biaya energi, logistik, bahan baku, dan komisi platform digital dapat menggerus margin keuntungan,” jelasnya.
Data pariwisata menunjukkan hubungan antara kurs dan jumlah kunjungan wisatawan tidak selalu berjalan searah. Pada Maret 2026, kunjungan wisatawan mancanegara langsung ke Bali tercatat 472.070 orang atau turun 4,11 persen dibanding Februari 2026. Sementara tingkat hunian hotel berbintang berada di angka 52,54 persen.
Karena itu, Trisno menilai keberhasilan pariwisata Bali tidak boleh hanya diukur dari jumlah wisatawan atau okupansi hotel, melainkan juga kualitas belanja wisatawan, lama tinggal, profitabilitas usaha, serta dampaknya terhadap masyarakat lokal.
Ia mendorong pelaku pariwisata untuk memanfaatkan momentum pelemahan rupiah dengan memperkuat penggunaan produk lokal, mulai dari hasil pertanian, perikanan, produk UMKM, kopi Bali, arak legal, kerajinan, hingga seni budaya lokal.
“Setiap dolar yang masuk ke Bali harus berputar lebih lama di ekonomi lokal agar manfaatnya dirasakan petani, nelayan, UMKM, seniman, desa adat, dan masyarakat Bali secara luas,” tegasnya.
Trisno menambahkan, daya saing Bali tidak boleh bertumpu pada harga murah semata. Keunggulan utama Bali harus tetap dibangun dari kekayaan budaya, keindahan alam, keramahan masyarakat, spiritualitas, serta pengalaman wisata yang autentik dan berkualitas.
“Rupiah lemah hanyalah angin tambahan, bukan mesin utama pariwisata Bali. Yang harus diperkuat adalah kualitas layanan, efisiensi usaha, produk lokal, dan pengalaman wisata yang bernilai tinggi,” pungkas Trisno Nugroho. (red)










