Barometer Bali | Tabanan – Tim Program Udayana Mengabdi (PUM) Universitas Udayana melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Posyandu Siklus Hidup Kardiovaskular Cerdas di Desa Binaan: Pendampingan Kader untuk Pemetaan Risiko dan Edukasi Obat” di Desa Marga, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Bali, Senin (8/6/2026).
Kegiatan ini bekerja sama dengan UPTD Puskesmas Marga I dan Pemerintah Desa Marga sebagai upaya memperkuat kapasitas kader dalam deteksi dini faktor risiko kardiovaskular, edukasi penggunaan obat kronis, serta penguatan sistem rujukan masyarakat ke fasilitas kesehatan.
Program ini diketuai oleh Rini Noviyani, S.Si., M.Si., Apt., Ph.D. dari Program Studi Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Udayana. Tim pelaksana melibatkan dosen lintas disiplin, mulai dari farmasi klinik, kardiologi, kesehatan masyarakat, hingga informatika, serta mahasiswa farmasi yang aktif mendampingi kegiatan di lapangan.
Rini Noviyani menjelaskan bahwa penyakit kardiovaskular merupakan salah satu penyebab utama kematian yang memerlukan deteksi dini, pemantauan gejala, kepatuhan pengobatan, dan rujukan yang tepat waktu. Menurutnya, kader Posyandu memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan yang berinteraksi langsung dengan masyarakat.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memperkuat kapasitas kader agar mampu membantu memetakan faktor risiko kardiovaskular, mengenali tanda bahaya, memberikan edukasi penggunaan obat kronis secara sederhana, serta mengetahui kapan warga perlu diarahkan untuk mendapatkan tindak lanjut ke puskesmas,” jelas Rini.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan pencegahan penyakit tidak menular sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat sejak tingkat desa.
“Kader adalah mitra penting tenaga kesehatan. Semakin baik kemampuan kader melakukan skrining awal dan edukasi, semakin besar peluang masyarakat mendapatkan penanganan lebih cepat sehingga risiko komplikasi dapat ditekan,” tegasnya.

Kegiatan pengabdian dilaksanakan melalui tahapan koordinasi dengan mitra, asesmen kebutuhan lapangan, penyusunan perangkat program, pelatihan kader, pendampingan implementasi, hingga monitoring dan evaluasi. Perangkat yang disiapkan meliputi formulir skrining sederhana, kartu pemetaan risiko warga, SOP mini rujukan komunitas, bahan pelatihan, serta poster dan infografik edukasi mengenai tanda bahaya kardiovaskular dan penggunaan obat kronis.
Dalam sesi pelatihan, kader memperoleh materi mengenai faktor risiko penyakit kardiovaskular, tanda bahaya jantung dan stroke, cara mengisi formulir skrining, komunikasi edukatif kepada warga dan keluarga, serta edukasi penggunaan obat kronis yang benar dan aman. Pelatihan dilakukan secara partisipatif melalui ceramah interaktif, diskusi, demonstrasi, simulasi kasus, dan role play.
Salah satu pesan utama yang ditekankan kepada kader adalah bahwa mereka tidak menggantikan tenaga kesehatan, melainkan menjadi penghubung awal antara masyarakat dan puskesmas. Kader dilatih mengenali kondisi yang perlu diwaspadai, seperti nyeri dada berat, sesak napas berat, pingsan, kelemahan satu sisi tubuh, bicara pelo, maupun tekanan darah sangat tinggi disertai keluhan berat sehingga warga dapat segera dirujuk untuk memperoleh pertolongan medis.
Selain deteksi dini, program ini juga menekankan pentingnya edukasi penggunaan obat kronis. Warga diingatkan agar mengonsumsi obat sesuai aturan, tidak menghentikan pengobatan tanpa konsultasi tenaga kesehatan, serta rutin melakukan kontrol. Kader juga dibekali kemampuan mengingatkan warga untuk membawa daftar obat saat pemeriksaan dan melaporkan keluhan yang berkaitan dengan terapi.
UPTD Puskesmas Marga I menyambut baik pelaksanaan kegiatan ini karena sejalan dengan penguatan pelayanan kesehatan primer dan Posyandu Siklus Hidup. Melalui penggunaan formulir skrining dan pencatatan warga berisiko, puskesmas diharapkan memperoleh data awal yang lebih tertata untuk mendukung edukasi, tindak lanjut, dan rujukan yang lebih tepat waktu.
Program ini juga berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan deteksi dini penyakit tidak menular, peningkatan literasi kesehatan, edukasi obat kronis, dan penguatan rujukan komunitas. Selain itu, kegiatan ini turut mendukung SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Keterkaitan program dengan SDGs tersebut juga mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) 7 Universitas Udayana melalui pembelajaran kolaboratif dan partisipatif. Mahasiswa terlibat langsung dalam persiapan perangkat, pelaksanaan pelatihan, pendampingan kader, dokumentasi kegiatan, hingga monitoring awal di masyarakat.
Program ini merupakan bentuk hilirisasi hasil penelitian ketua pelaksana terkait pemanfaatan pendekatan berbasis data dan pengambilan keputusan dalam pengelolaan obat pada penyakit kardiovaskular yang disederhanakan menjadi instrumen komunitas yang praktis, aman, dan mudah digunakan oleh kader desa.
Menutup kegiatan tersebut, Rini berharap perangkat yang telah disusun dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan dalam Posyandu Siklus Hidup.
“Harapannya, kader semakin percaya diri dalam memberikan edukasi awal kepada warga, puskesmas memperoleh dukungan data yang lebih baik, dan masyarakat semakin memahami pentingnya mengenali risiko kardiovaskular serta menggunakan obat kronis secara benar. Kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa pengabdian masyarakat dapat sekaligus mendukung pencapaian SDGs dan IKU 7 Universitas Udayana,” tutup Rini. (red)










