Barometer Bali | Denpasar – Komitmen pemerintah dalam menjaga kelestarian lingkungan dan menghadapi ancaman perubahan iklim kembali ditegaskan melalui aksi penanaman mangrove yang dipimpin Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Mohammad Jumhur Hidayat bersama Gubernur Bali Wayan Koster di Mangrove Arboretum Park, Pedungan, Denpasar Selatan, Rabu (10/6/2026).
Kegiatan yang melibatkan pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Bali, TNI, Polri, pelajar, mahasiswa, komunitas lingkungan, hingga berbagai pemangku kepentingan tersebut menjadi simbol kolaborasi lintas sektor dalam mempercepat rehabilitasi kawasan pesisir sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga ekosistem mangrove.
Turut hadir dalam kegiatan itu Wali Kota Denpasar, Bupati Badung, perwakilan Pangdam IX/Udayana, Kapolda Bali, Kepala Kejaksaan Tinggi Bali, Ketua Pengadilan Tinggi Denpasar, Ketua Pengadilan Tinggi Agama Bali, Danrem 163/Wira Satya, Kepala BIN Daerah Bali, Kepala BNN Provinsi Bali, beserta jajaran TNI-Polri dan unsur masyarakat.
Dalam sambutannya, Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat menegaskan bahwa penanaman mangrove bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bentuk nyata tanggung jawab seluruh elemen bangsa dalam menjaga keseimbangan alam.
“Kita mulai merasakan gangguan akibat ketidaksopanan kita kepada lingkungan. Banyak bencana hidrometeorologi yang terjadi karena cara kita memperlakukan alam. Karena ulah manusia, maka alam memberikan responsnya,” tegas Jumhur.
Menurutnya, meningkatnya frekuensi banjir dan berbagai bencana hidrometeorologi di sejumlah daerah menjadi pengingat bahwa upaya pelestarian lingkungan harus dilakukan secara serius dan berkelanjutan.
Karena itu, Kementerian Lingkungan Hidup berkomitmen memperluas gerakan penanaman mangrove di berbagai daerah, termasuk Bali yang dinilai memiliki posisi strategis sebagai destinasi wisata kelas dunia.
Jumhur juga mengapresiasi komitmen Pemerintah Provinsi Bali yang dinilainya berhasil membangun kolaborasi seluruh elemen masyarakat dalam menjaga lingkungan hidup.
“Di Bali saya melihat semua kalangan bisa bersatu. Ini contoh yang sangat baik dan saya yakin akan semakin banyak pihak yang terlibat dalam menjaga lingkungan hidup,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, pemerintah pusat bahkan berencana kembali menggelar aksi penanaman mangrove dalam skala lebih besar di Bali pada peringatan Hari Mangrove Sedunia, 28 Juli mendatang. Kegiatan tersebut akan melibatkan berbagai kementerian, organisasi masyarakat, serikat pekerja, serta komunitas lingkungan.
Pada kesempatan itu, Menteri LH juga memberikan apresiasi terhadap langkah cepat Pemerintah Provinsi Bali dalam menangani persoalan sampah. Berdasarkan laporan yang diterima kementerian, sejumlah daerah di Bali telah berhasil menekan volume timbunan sampah secara signifikan.
“Ketika suatu daerah serius menjaga lingkungan, masyarakat internasional akan memberikan penghormatan dan simpati. Hal itu justru akan memperkuat sektor pariwisata,” katanya.
Selain menjaga kelestarian alam, Jumhur menilai kawasan mangrove juga memiliki potensi besar dalam mendukung ekonomi hijau. Menurutnya, mangrove mampu menyerap karbon dalam jumlah besar sehingga dapat menjadi bagian penting dalam perdagangan karbon internasional yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Sementara itu, Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan apresiasi atas kehadiran Menteri Lingkungan Hidup yang dinilainya sebagai bentuk nyata dukungan pemerintah pusat terhadap program pelestarian lingkungan di Bali.
“Terima kasih kepada Bapak Menteri yang berkenan hadir di Bali sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan hidup di Provinsi Bali,” ujar Koster.
Ia menjelaskan, penanaman pohon dan mangrove telah menjadi program rutin Pemerintah Provinsi Bali sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus menghadapi dampak perubahan iklim.
Menurut Koster, kawasan mangrove di Denpasar dan Badung sempat mengalami kerusakan sekitar 18 hektare. Namun, sejak 2019 pemerintah terus melakukan rehabilitasi secara bertahap agar kawasan tersebut kembali berfungsi sebagai pelindung pesisir, penyerap karbon, sekaligus habitat berbagai jenis biota.
“Semoga mangrove yang ditanam hari ini dapat tumbuh dengan baik sehingga kawasan ini kembali pulih seperti sedia kala dan memberikan manfaat bagi lingkungan serta masyarakat,” kata Koster.
Melalui rehabilitasi mangrove yang berkelanjutan, pengelolaan sampah yang semakin baik, serta pengembangan ekonomi hijau, Pemerintah Provinsi Bali berharap Pulau Dewata tetap menjadi destinasi wisata dunia yang tidak hanya dikenal karena keindahan alam dan budayanya, tetapi juga sebagai daerah yang berkomitmen kuat terhadap pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. (red)











