Barometer Bali | Tabanan – Penanganan dugaan kasus kekerasan seksual yang melibatkan mantan karyawan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Dewi Baruna Amerta Sari masih terus bergulir di Polres Tabanan. Kasus tersebut tercatat dalam Laporan Polisi Nomor: STP/213.a/VII/2026/SPKT/POLRES TBN/POLDA BALI.
Dalam penelusuran yang dilakukan sejumlah awak media, muncul rekaman percakapan yang diperoleh dari pelapor berinisial Kadek TA. Dalam rekaman itu, korban mengaku mendengar pernyataan dari CEO PT Sri Dewi Baruna, Ketut Sarini, S.M., yang menyebut terlapor berinisial Kadek A diduga pernah melakukan tindakan serupa terhadap sejumlah siswa LPK pada masa sebelumnya.
Berdasarkan informasi yang berkembang, modus yang diduga digunakan pelaku adalah menjanjikan keberangkatan bekerja sebagai awak kapal pesiar kepada calon pekerja migran. Saat itu, Kadek A diketahui bertugas di bagian manajer crewing, yang memiliki peran dalam proses seleksi calon tenaga kerja yang akan diberangkatkan ke luar negeri.
Selain itu, beredar pula dugaan bahwa tindakan yang dilakukan terlapor telah berlangsung berulang kali dan disebut-sebut mendapat perlindungan dari pihak LPK. Bahkan, muncul rumor mengenai adanya hubungan pribadi antara CEO PT Sri Dewi Baruna dengan terlapor.
Menanggapi berbagai isu tersebut, Ketut Sarini membantah seluruh tudingan yang diarahkan kepadanya. Dengan mata berkaca-kaca, ia menegaskan bahwa kabar mengenai hubungan pribadinya dengan Kadek A tidak benar.
“Saya sudah bersuami. Gosip itu tidak benar. Yang bersangkutan sudah kami pecat dan saat ini tidak memiliki hubungan apa pun dengan perusahaan,” ujar Sarini, Selasa (21/7/2026).
Ia juga membantah adanya dugaan korban lain di lingkungan LPK. Menurutnya, apabila Kadek A melakukan tindakan di luar lingkungan perusahaan, hal tersebut berada di luar pengetahuannya.
Sarini mengaku justru dirinya yang pertama kali memergoki Kadek A bersama korban di ruang mess perusahaan.
“Saya sendiri yang memergoki mereka di ruang mess. Dalam laporan kepada petugas keamanan, saya menyampaikan kejadian itu diduga sudah terjadi sampai empat kali. Saat saya temukan, keduanya masih berpakaian lengkap. Apakah itu pelecehan atau bukan, saya tidak bisa menyimpulkan. Saya serahkan kepada proses hukum,” katanya.
Menanggapi isu dugaan pungutan liar terhadap para siswa, Sarini juga membantah keras tuduhan tersebut.
“Tidak ada pungli. Semua biaya bersifat transparan, memiliki bukti pembayaran, dan penggunaannya jelas. Kami tidak main-main dalam pengelolaan perusahaan,” tegasnya.
Sarini mengatakan sejak awal dirinya membangun perusahaan dengan tujuan membantu mengurangi angka pengangguran di Bali melalui penempatan tenaga kerja ke kapal pesiar.
“Harapan saya sederhana, semakin banyak masyarakat Bali memperoleh pekerjaan yang layak di luar negeri, sehingga ketika kembali ke daerahnya dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga dan ikut membangun desanya,” terangnya.
Dalam kesempatan itu, Sarini juga menanggapi persoalan rumah yang disebut-sebut dikunci olehnya. Ia menjelaskan rumah tersebut dibangun bersama suaminya sehingga ia keberatan apabila digunakan bersama perempuan lain.
“Rumah itu kami bangun bersama. Bagaimana mungkin saya mengizinkan dia membawa perempuan lain ke sana,” imbuhnya.
Namun, pernyataan tersebut disebut berbeda dengan keterangan singkat yang sebelumnya disampaikan sang suami.
Sarini juga membantah anggapan bahwa suaminya tidak memperoleh bagian yang layak selama ikut membangun perusahaan. Ia mengaku selama ini memberikan berbagai fasilitas, termasuk kartu kredit dengan tagihan yang menurutnya mencapai ratusan juta rupiah setiap bulan.
“Saya bahkan memberikan kartu kredit. Tetapi tagihannya sangat besar hingga mencapai ratusan juta rupiah. Saya akhirnya meminta kartu itu dan memotongnya. Kalau memang mampu, silakan cari sendiri,” tuturnya.
Ia juga mengaku pernah memberikan berbagai hadiah kepada suaminya, mulai dari mobil hingga sepeda motor sebagai bentuk kasih sayang. Namun, menurutnya, persoalan perselingkuhan menjadi hal yang tidak dapat ia terima.
“Kalau ulang tahun saya, kadang hanya diberi kue kecil. Saya tidak masalah karena saya sayang kepada dia. Tetapi kalau membawa perempuan lain, itu yang tidak bisa saya terima,” pungkas Sarini. (red)










