Desa Temesi Tawarkan Solusi Gunungan Sampah Organik TPA, Pariwisata Diajak Terlibat

Screenshot_20260823_165312_InCollage - Collage Maker
Perbekel Temesi, I Ketut Branayoga, S.E., meminta Pemkab Gianyar mencari solusi untuk mengatasi gunungan sampah di TPA Temesi, Gianyar. (barometerbali/red)

Barometer Bali | Gianyar – Pemerintah Desa Temesi, Kecamatan Gianyar, mendorong Pemerintah Kabupaten Gianyar segera mengambil langkah nyata untuk mengatasi gunungan sampah organik yang terus menumpuk di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Temesi.

Penanganan persoalan sampah tersebut dinilai tidak cukup berhenti pada pemilahan dari sumber. Pemerintah juga perlu menyiapkan sistem pengolahan dan pemanfaatan sampah organik yang telah dipilah agar tidak kembali menjadi beban di TPA.

Melalui surat resmi kepada Bupati Gianyar, Pemerintah Desa Temesi mengusulkan material organik yang telah mengalami proses penguraian di TPA Temesi dapat dimanfaatkan menjadi tanah subur atau media tanam. Prosesnya meliputi pengeringan, pengayakan, pemisahan material, pengemasan hingga pemanfaatan produk.

Perbekel Temesi, I Ketut Branayoga, S.E., mengatakan gagasan tersebut bukan semata-mata diarahkan untuk menciptakan kegiatan usaha baru, melainkan menjadi salah satu alternatif mengurangi volume gunungan sampah sekaligus memberikan nilai guna terhadap material organik yang selama ini menjadi persoalan.

Menurutnya, kebijakan pemilahan sampah dari sumber yang telah berjalan sejak 1 Mei 2024 perlu diimbangi dengan kemampuan pemerintah menangani sampah yang sudah dipilah. Tanpa sistem pengolahan lanjutan, sampah organik justru berpotensi terus terakumulasi di TPA.

“Yang menjadi persoalan sekarang adalah bagaimana sampah organik yang sudah dipilah ini bisa segera dimanfaatkan. Kami menawarkan konsep sederhana, yakni mengolahnya menjadi tanah subur atau media tanam, tentu setelah melalui kajian, pengujian dan memenuhi standar teknis serta keamanan,” ujarnya.

Pariwisata Didorong Ikut Menciptakan Pasar

Selain aspek pengolahan, Desa Temesi mengharapkan keterlibatan sektor pariwisata untuk menciptakan pasar bagi produk hasil pengolahan sampah organik tersebut.

Berita Terkait:  Semarakkan HKAN 2026, BKSDA Bali Tanam 300 Pohon di Danau Buyan-Tamblingan

Dalam surat yang telah diedarkan beberapa hari sebelumnya, Pemerintah Desa Temesi mengusulkan Dinas Pariwisata Kabupaten Gianyar, termasuk melalui koordinasi dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) serta pelaku industri pariwisata lainnya, mendorong hotel, vila, restoran dan usaha pariwisata memanfaatkan tanah subur atau media tanam hasil pengolahan TPA Temesi.

Produk tersebut dapat dibeli sesuai kebutuhan masing-masing usaha dengan harga semurah mungkin atau berdasarkan perhitungan biaya operasional pengolahan.

“Jadi dukungannya bukan dalam bentuk pungutan baru. Pelaku pariwisata membeli sesuai kebutuhan mereka. Misalnya hotel membutuhkan media tanam untuk taman atau penghijauan, maka bisa membeli produk yang dihasilkan dari pengolahan sampah organik TPA Temesi,” jelasnya.

Setiap transaksi diharapkan tercatat secara resmi melalui nota atau dokumen transaksi yang sah. Dengan mekanisme tersebut, pengolahan sampah tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi berpotensi membangun rantai ekonomi sirkular dengan mengubah material yang sebelumnya menjadi beban menjadi produk bernilai guna.

Usulkan Sinergi dengan Pengelolaan Pendapatan Daerah

Gagasan Desa Temesi juga membuka ruang sinergi dengan perangkat daerah yang membidangi pendapatan daerah.
Mekanisme dukungan terhadap pelaku pariwisata diusulkan dibahas bersama perangkat daerah terkait, termasuk kemungkinan keterkaitannya dengan administrasi pembayaran pajak daerah sepanjang sesuai kewenangan dan ketentuan yang berlaku.

“Misalnya pelaku pariwisata membeli tanah subur atau media tanam sesuai kebutuhannya dan memiliki nota pembelian. Mekanisme pencatatan dan pengakuannya tentu perlu dibahas bersama sesuai kewenangan dan aturan yang berlaku. Artinya, kita ingin semua pihak bergerak dalam satu sistem, bukan bekerja sendiri-sendiri,” ungkapnya.

Berita Terkait:  Gubernur Koster Dorong Gerakan Tanam Mangrove Setiap Bulan, Perkuat Ekosistem Pesisir Bali

Pemerintah Desa Temesi menegaskan skema tersebut masih sebatas usulan dan membutuhkan pembahasan lintas sektor untuk memastikan pelaksanaannya tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.

Karena itu, Desa Temesi berharap digelar forum bersama yang melibatkan Pemkab Gianyar, organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, pelaku pariwisata, pemerintah desa, lembaga ekonomi desa dan pihak lainnya.
BUMDes dan BSI Temesi Siap Jadi Offtaker
Desa Temesi juga menyatakan kesiapannya mengambil peran apabila Perumda Gianyar atau BUMD yang direncanakan belum siap menjalankan program tersebut.

BUMDes Tri Angga Jaya dan BSI Temesi Bersemi disebut siap membantu pengelolaan sekaligus menjadi offtaker hasil pengolahan sampah organik, dengan catatan memperoleh dukungan pemerintah terkait pembiayaan, sarana dan prasarana, peralatan serta pendampingan teknis.

“Kalau Perumda Gianyar belum mampu atau belum siap, kami dari BUMDes Temesi maupun BSI Temesi siap menjadi offtaker. Tentu perlu ada dukungan dan perhitungan yang jelas dari pemerintah. Kami siap duduk bersama membahas bagaimana skema yang paling tepat,” tegasnya.

Dukungan yang diperlukan antara lain fasilitas pengeringan, mesin pengayakan, alat pemindahan material, fasilitas pengemasan, tenaga kerja, pendampingan teknis hingga pengujian mutu.

Sebelum hasil pengolahan dipasarkan dan dimanfaatkan secara luas, material tersebut juga harus melalui kajian serta pengujian oleh instansi teknis maupun lembaga yang kompeten. Langkah ini diperlukan untuk memastikan produk benar-benar aman dan memenuhi standar sesuai peruntukannya.

Berita Terkait:  Kelola Sampah Organik Secara Mandiri, Bupati Kembang Beri Apresiasi Tinggi Warga Sri Mandala

Sampah TPA Temesi Persoalan Bersama
Pemerintah Desa Temesi menekankan gunungan sampah organik di TPA Temesi bukan hanya persoalan masyarakat setempat, tetapi menjadi persoalan bersama yang membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan di Kabupaten Gianyar.

Pemkab Gianyar diharapkan dapat mengintegrasikan penanganannya melalui kerja lintas OPD, mulai dari Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pertanian, Dinas Pariwisata, Dinas PMD, Bappeda, perangkat daerah yang menangani pendapatan hingga Perumda atau BUMD.

Sementara itu, pelaku industri pariwisata diharapkan berperan menciptakan pasar bagi produk yang nantinya dihasilkan.

“Intinya kami ingin solusi. Jangan sampai kita berjalan sendiri-sendiri. Kalau memang ini dianggap sebagai salah satu solusi terbaik, mari kita duduk bersama, rembukkan, hitung kebutuhan dan biayanya, kemudian tentukan siapa melakukan apa,” kata pihak Desa Temesi.

Pemerintah Desa Temesi berharap langkah konkret dapat segera diambil sebelum volume gunungan sampah semakin besar dan berpotensi menimbulkan persoalan baru bagi lingkungan serta masyarakat sekitar.

Terlebih, masyarakat dinilai telah menunjukkan komitmennya dengan melakukan pemilahan sampah dari sumber. Komitmen tersebut kini membutuhkan dukungan sistem pengolahan yang mampu menangani sampah setelah dipilah.

“Harapan kami sederhana, masyarakat sudah mau memilah, pemerintah hadir mengolah, dunia usaha ikut memanfaatkan. Kalau semua bergerak bersama, sampah tidak lagi hanya menjadi beban, tetapi bisa menjadi bagian dari solusi lingkungan dan ekonomi masyarakat,” pungkasnya. (red)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI