PLTS Gilimanuk 300 MWp, Bali Mulai Geser Ketergantungan BBM ke Energi Surya

IMG-20260825-WA0069
Groundbreaking proyek PLTS Gilimanuk di Kabupaten Jembrana, Bali, Selasa (25/8/2026)(Barometerbali/istimewa)

Barometer Bali | Jembrana – Bali mulai memasuki babak baru dalam pengelolaan energi setelah proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Gilimanuk berkapasitas 300 megawatt peak (MWp) mulai dibangun di Kabupaten Jembrana.

Proyek tersebut tidak hanya menambah kapasitas pembangkit energi terbarukan, tetapi juga diarahkan untuk mengurangi ketergantungan sistem kelistrikan Bali terhadap bahan bakar minyak (BBM).

PLTS Gilimanuk menjadi bagian dari pengembangan energi surya berskala besar di Bali dengan target total kapasitas mencapai 1.000 MWp atau 1 gigawatt peak (GWp). Pengembangan tersebut akan didukung sistem penyimpanan energi baterai atau Battery Energy Storage System (BESS) dengan kapasitas total sekitar 3.300 megawatt hour (MWh).

Untuk proyek Gilimanuk sendiri, pembangkit berkapasitas 300 MWp akan dilengkapi BESS sebesar 1.000 MWh. PLTS ini diproyeksikan menghasilkan energi listrik sekitar 470 gigawatt hour (GWh) per tahun.

Energi yang dihasilkan nantinya tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik di Jembrana. PLTS Gilimanuk akan terhubung dengan jaringan transmisi tegangan tinggi 150 kilovolt (kV) Negara-Gilimanuk sehingga listriknya dapat disalurkan untuk memperkuat sistem kelistrikan Bali, termasuk wilayah Bali Selatan.

Berita Terkait:  Ketua TP Posyandu Bali Buka Bimtek Angkatan IX, Tegaskan Posyandu Jadi Pilar Pembangunan Masyarakat

Tekan Penggunaan BBM

Salah satu manfaat utama proyek ini adalah pengurangan penggunaan BBM dalam sistem kelistrikan Bali. PLTS Gilimanuk diproyeksikan mampu menghemat penggunaan bahan bakar minyak hingga sekitar 151 ribu kiloliter per tahun.

Pengurangan tersebut menjadi bagian dari target yang lebih besar. Jika seluruh program pengembangan PLTS di Bali mencapai kapasitas 1.000 MWp dengan dukungan BESS 3.300 MWh, penggunaan BBM di Bali diperkirakan dapat ditekan hingga sekitar 500 ribu kiloliter per tahun.

Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengatakan pengembangan energi surya di Bali akan mengubah struktur sistem kelistrikan Pulau Dewata. Energi yang selama ini masih bergantung pada BBM impor secara bertahap akan digantikan oleh energi baru terbarukan yang bersumber dari dalam negeri.

“Dari energi yang mahal menjadi energi murah, dari energi fosil menjadi energi baru terbarukan,” kata Darmawan.

Menurutnya, PLTS Gilimanuk tidak hanya berkaitan dengan pembangunan pembangkit baru, tetapi menjadi bagian dari transformasi sistem energi Bali menuju sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Berita Terkait:  Perkuat Ketahanan Pangan, Gubernur Koster Dukung Gerakan Penanaman Bawang Putih Serentak

Energi Surya Disimpan untuk Malam Hari

Keberadaan BESS menjadi komponen penting dalam proyek PLTS Gilimanuk. Sistem penyimpanan tersebut memungkinkan energi matahari yang dihasilkan pada siang hari disimpan untuk kemudian digunakan ketika kebutuhan listrik meningkat, termasuk pada sore hingga malam hari.

Darmawan menjelaskan, pola tersebut memungkinkan energi surya menggantikan sebagian penggunaan BBM yang selama ini banyak dibutuhkan ketika konsumsi listrik meningkat pada sore dan malam hari.

“Energi dari matahari yang diproduksi pada siang hari bisa digunakan untuk melistriki pada malam hari, bahkan sore maupun pagi hari. Konsumsi BBM yang banyak terjadi pada sore sampai malam hari bisa digantikan dengan PLTS yang energinya disimpan dalam BESS,” jelasnya.

Dengan demikian, pengembangan PLTS tidak hanya soal menambah pembangkit energi bersih, tetapi juga memastikan energi tersebut dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan sistem kelistrikan.

Dorong Bali Mandiri Energi

Gubernur Bali Wayan Koster menyebut pengembangan energi surya tersebut sejalan dengan visi Bali Mandiri Energi dengan Energi Bersih yang telah dituangkan melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2019.

Berita Terkait:  Anak Muda Bali Mulai Melirik Demokrat, Mudarta Sebut Figur AHY Jadi Magnet Generasi Muda

Menurut Koster, pemanfaatan energi bersih memiliki arti penting bagi Bali sebagai destinasi pariwisata dunia. Sistem energi yang lebih bersih dinilai dapat memperkuat citra Bali sekaligus mendukung keberlanjutan sektor pariwisata.

Koster juga menilai pengurangan konsumsi BBM akan memberikan manfaat lebih luas karena dapat mengurangi ketergantungan Bali terhadap energi fosil dan kebutuhan energi impor.

Selain PLTS Gilimanuk, pemerintah bersama PLN juga tengah mengidentifikasi sejumlah lokasi potensial lainnya di Bali, termasuk di Buleleng dan Karangasem. Pemanfaatan lahan negara yang tidak produktif menjadi salah satu opsi untuk mempercepat pengembangan pembangkit energi surya.

Dengan dimulainya pembangunan PLTS Gilimanuk, Bali tidak sekadar menambah pembangkit listrik baru. Proyek ini menjadi bagian dari upaya mengubah sumber energi Pulau Dewata, dari ketergantungan terhadap bahan bakar fosil menuju energi surya yang lebih bersih dan berasal dari sumber daya domestik.

Jika target pengembangan PLTS 1.000 MWp dan BESS 3.300 MWh di Bali dapat direalisasikan, transformasi tersebut diharapkan semakin memperkuat ketahanan energi sekaligus mendukung arah pembangunan Bali yang lebih bersih dan berkelanjutan. (red)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI