Denpasar | Barometer Bali – Peluang perdagangan dan investasi antara Bali dan Australia terus dijajaki melalui program Katalis 2.0. Konsulat-Jenderal Australia di Bali bersama Katalis mempertemukan para pemimpin bisnis di Bali pada 20–21 Oktober 2026 untuk membahas potensi kerja sama ekonomi, investasi, hingga pengembangan keterampilan.
Pertemuan yang dikemas melalui kegiatan jejaring bisnis dan focus group discussion (FGD) tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan ekonomi Indonesia-Australia, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas bagi pelaku usaha di Bali.
Katalis 2.0 merupakan fase kedua program kerja sama ekonomi Indonesia-Australia yang didanai Pemerintah Australia selama lima tahun. Program ini bertujuan membantu pelaku usaha kedua negara memanfaatkan secara optimal Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).
Perjanjian perdagangan bebas yang berlaku sejak Juli 2020 itu memberikan kerangka untuk mempermudah perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Australia.
Australia Jadi Pasar Wisatawan Terbesar Bali
Kedekatan hubungan Bali dengan Australia menjadi modal penting dalam memperluas kemitraan bisnis. Sepanjang 2025, Bali mencatat lebih dari 1,6 juta kunjungan wisatawan Australia. Angka tersebut menempatkan Australia sebagai pasar wisatawan mancanegara terbesar bagi Bali, dengan kontribusi hampir seperempat dari total kunjungan wisatawan asing.
Konsul-Jenderal Australia di Bali, Jo Stevens, mengatakan pelaku usaha di Bali memiliki pengalaman dan gagasan penting untuk memperkuat kemitraan ekonomi kedua negara.
“Dunia usaha di Bali membawa pengalaman dan gagasan berharga bagi kemitraan ekonomi bilateral kita. Menghubungkan mereka dengan Katalis membantu kami memahami di sektor mana kerja sama yang lebih erat dengan Australia dapat mendukung ambisi bisnis mereka,” ujar Jo Stevens.
Dalam diskusi tersebut, para peserta membahas prioritas bisnis, hambatan pertumbuhan usaha, serta potensi kerja sama di sejumlah sektor strategis. Fokus pembahasan mencakup agribisnis, keuangan digital, serta kesehatan dan inklusi penyandang disabilitas.
Ketua Tim Katalis, Kristy Baker, menegaskan bahwa konsultasi langsung dengan pelaku usaha diperlukan agar program kerja sama yang dirancang sesuai dengan kebutuhan pasar.
“Kami ingin memahami di mana pelaku usaha melihat adanya peluang, tantangan apa yang mungkin mereka hadapi, serta bagaimana kemitraan Indonesia-Australia dapat memberikan dampak nyata,” kata Kristy Baker.
Dorong Kemitraan yang Berdampak Nyata
Inisiatif ini melanjutkan berbagai bentuk kemitraan yang telah dikembangkan di Bali, termasuk Access Indonesia, platform informasi aksesibilitas yang dibangun bersama Bali Buddies, platform digital yang bergerak di bidang gaya hidup dan perjalanan.
Melalui Katalis 2.0, pemerintah Australia dan Indonesia mendorong terbentuknya kemitraan yang tidak hanya memperluas hubungan bisnis, tetapi juga memiliki manfaat ekonomi yang inklusif.
Saat ini, Katalis melaksanakan konsultasi regional di berbagai wilayah Indonesia untuk menghimpun masukan langsung dari pelaku usaha. Hasil konsultasi tersebut akan menjadi bahan dalam merancang kemitraan yang layak secara komersial, mampu menjawab tantangan dunia usaha, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih luas.
Bagi Bali, penjajakan ini membuka ruang untuk memperluas kerja sama dengan Australia, tidak hanya di sektor pariwisata, tetapi juga pada bidang-bidang strategis yang berpotensi menciptakan peluang investasi dan pengembangan usaha baru. (red)










