Barometer Bali | Klungkung – Fenomena perilaku warga perantau asal Nusa Tenggara Timur (NTT) di Bali menjadi perbincangan di tengah masyarakat Bali, terlebih khusus di media sosial. Hal tersebut lantaran perbuatan beberapa oknum asal NTT yang di Bali selalu membuat keributan sehingga menjadi menjadi sorotan dari berbagai pihak.
Salah satu tokoh asal NTT di Bali, Yosep Yulius Diaz pun angkat bicara terkait dengan ulah perilaku oknum warga NTT yang di Bali yang kerap meresahkan.
Mantan Ketua Ikatan Keluarga Besar (IKB) Flores, Sumba, Timor, dan Alor (Flobamora) periode 2011 – 2023 ini meminta pihak kepolisian daerah Bali agar tidak ragu-ragu menangkap oknum perantau asal NTT yang suka berbuat masalah di Bali.
“Kepada pihak kepolisian, jika ada oknum yang membuat kerusuhan, kami minta ambil saja pak dan segera ditindak tegas. Silakan tangkap,” tandas Yusdi Diaz di awak media disela-sela acara Dialog Tokoh Lintas Agama dan Tokoh Adat Provinsi Bali tahun 2025 di Puri Den Bencingah Semarapura, Kabupaten Klungkung, Rabu, (14/5/2025).
Yusdi Diaz, mengingatkan para perantau asal NTT di Bali agar berperilaku baik mengingat Bali adalah daerah pariwisata yang butuh ketenangan.
“Kan kita juga tidak suka, jika ada orang yang bertingkah tidak sesuai dengan adat istiadat setempat. Jadi, kita semua harus menghormati dan mensyukuri keindahan Bali berkah yang Maha Kuasa, agar hidup rukun,” katanya.
Ia mengharapkan, bagi saudara-saudara NTT terutama mereka yang baru datang ke Bali dan belum mengenal adat istiadat Bali, diharapkan berbaur untuk ikut serta dalam paguyuban-paguyuban supaya menemukan kebahagiaan dan kebersamaan.
“Jika mereka bergabung di dalam Paguyuban Flobamora, biasanya mereka mengenal dengan saudara-saudaranya yang lainnya dan saling mengingatkan satu sama lain,” tuturnya.
Selain itu, Yusdi Diaz juga mengajak anak-anak NTT beserta senior-senior dan juga para pengurus Paguyuban Etnis Nusantara (PEN) yang sudah berkeluarga di Bali agar selalu mengingat kepada saudaranya untuk berperilaku baik.
“Saya mengingatkan saudara-saudaranya untuk selalu hidup rukun dan meningkatkan toleransi antar umat beragama sebagai modal dasar hidup di Bali yang berdasarkan pariwisata,” imbaunya.
Ia mengingatkan, jangan karena perbuatan beberapa oknum tersebut semua namanya jadi jelek.
“Saya warga Bali, ayah dari NTT dan ibu dari Bali serta besar di Bali. Saya cinta Bali, cinta NTT dan cinta Indonesia. Jadi, kita di sini selamanya harus rukun dan baik-baik saja,” tutup Yusdi Diaz. (rian)











