Barometer Bali | Denpasar – Komunitas Nanshan di Distrik Luojiang, Quanzhou, Cina dikenal sebagai Desa Bali.
Pada 1960-an, kelompok warga keturunan Cina-Indonesia kembali dari Bali dan menetap di sana.
“Kami mulai dari bertani, lalu bekerja di pabrik, dan perlahan-lahan membangun kehidupan di sini,” Zhang Lianxing, usia 77 tahun, salah satu warga perintis komunitas Nanshan pada 1961.
Beberapa tahun belakangan khususnya saat hari libur kawasan komunitas ini telah berkembang menjadi pusat kegiatan yang ramai.
Banyak orang datang ke stan-stan pasar, jajanan khas Asia Tenggara.
Nanshan hanya salah satu tempat bernuansa Bali yang ada di luar Indonesia.
Di provinsi lain di Cina dan Belanda juga ada kawasan yang suasananya seperti di Bali.
Hainan, Cina
Di Kota Wanning, Hainan, ada lokasi kompleks wisata budaya Desa Bali.
Dibangun lewat kerja sama antara pemerintah lokal Cina dan Universitas Pendidikan Ganesha Bali, kawasan ini dihiasi gapura candi bentar, patung Boma, hingga ukiran tokoh pewayangan seperti Dewi Sinta dan Hanoman.
Pembangunan kawasan ini dimulai sejak 2017.
Lu Shaosheng, Direktur Wisata Desa Bali, mengatakan proyek ini sebagai simbol persahabatan antara Indonesia dan Cina.
Pengunjung juga bisa menonton pertunjukan tari Bali, mencicipi kuliner khas Nusantara, hingga kursus bahasa Indonesia-Bali.
Taman Kallenkote, Belanda
Di Taman Indonesia, Kallenkote, dibangun Pura Shanta Citta Bhuwana, yang telah diresmikan pada 3 Mei 2025.
Pura ini menjadi simbol budaya Hindu Bali di Eropa.
Pembangunannya didukung langsung oleh Pemerintah Bali yang diawali dengan upacara adat melaspas dan ngenteg linggih.
Selama delapan hari, Festival Bali digelar untuk merayakan momen bersejarah tersebut.
Momentum ini dimeriahkan dengan pertunjukan seni, kuliner, hingga lokakarya budaya.
Bagi komunitas diaspora, pura ini untuk menjaga keterhubungan dengan nilai dan tradisi leluhur, meski mereka tinggal jauh dari Bali. (ari)











