Barometer Bali | Denpasar- Ketua Dewan Komisi Kemitraan, Hubungan Antar Lembaga, dan Infrastruktur Dewan Pers, Rosarita Niken, mengungkapkan bahwa hingga juni 2025, Dewan Pers telah menerima sekitar 625 laporan dari masyarakat terkait pemberitaan.
Rosarita menyampaikan sebagian besar pengaduan tersebut dipicu oleh maraknya penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam produksi konten jurnalistik yang dianggap menyesatkan dan merugikan masyarakat.
“Tahun 2025 terhitung sampai 30 Juni sudah ada 625 pengaduan, dengan rincian 424 kasus selesai dan 201 masih dalam proses,” ujarnya, pada Selasa (9/9/2025) di Denpasar.
Rosarita menerangkan, jika dibandingkan dengan jumlah pengaduan pada tahun 2022 ada 691 kasus pengaduan, 2023 total 813 kasus dan tahun 2024 terdapat 678 kasus pengaduan.
Menurutnya, era disrupsi ini menjadi tantangan bagi para wartawan dan jurnalisme moderen. Kehadiran kecerdasan buatan itu ibarat dua mata pisau yang menguntungkan sekaligus berpotensi merugikan.
Meskipun, AI jika digunakan secara tepat dapat membantu kerja jurnalistik, terutama dalam melakukan investigatif reporting yang membutuhkan banyak data.
Rosarita mengingatkan, dalam menghasilkan produk jurnalistik, kontrol manusia dibutuhkan dari awal hingga akhir produksi berita. Kecerdasan buatan hanyalah fitur yang berfungsi sebagai alat bantu dan bukan pengganti kerja jurnalistik.
“Konten berbasis AI harus melewati fact checking,” imbuhnya.
Sementara, Pemimpin Redaksi portal berita titrto.id Rachmadin Ismail mengungkap, AI Overview yang disematkan dalam pencarian google, menyebabkan penurunan jumlah visitor.
Saat ini, google memberikan rangkuman dalam setiap pencarian dan berada di urutan teratas. Rachmadin memberikan analisa, perubahan algoritma itu menyebabkan penurunan kunjungan.
“Sekarang tidak perlu lagi klik berita, karena algoritma AI sudah merangkum pencarian yang didasarkan dari website teman-teman semua,” kata Rachmadin.
Untuk menyiasati perubahan itu, pihaknya mencari metodologi baru untuk mempertahankan peringkat kunjungan yang bersumber dari mesin pencari.
“Kami mencoba bertahan hidup lewat pemeriksaan fakta dan teknologinya, cara paling ideal adalah dengan menjadi media kurator tentang pelurus
an fakta,”tutup Rachmadin. (rian)











