Darah Kering Caracas, Hantu Kutub Utara

IMG-20260112-WA0001
Dr. Efatha Filomeno Borromeu Duarte (Dosen Ilmu Politik Universitas Udayana). (Barometerbali/Red)

Oleh: Dr. Efatha Filomeno Borromeu Duarte
(Dosen Ilmu Politik Universitas Udayana)

Barometer Bali | Denpasar – Langit di Narsaq itu berat. Warnanya ungu lebam. Seperti memar yang tak kunjung sembuh.

Di musim dingin begini, matahari di sana cuma rumor. Ia muncul sebentar, malas-malasan, lalu tenggelam lagi di balik tebing es fjord.

Meninggalkan kota kecil di ujung selatan Greenland ini dalam pelukan gelap yang panjang.

Tapi minggu ini, kegelapan itu terasa beda. Lebih mencekam.

Angin yang turun dari Inland Ice membawa kabar buruk. Orang Inuit bilang itu suara leluhur yang marah.

Tapi bagi telinga analis di Brussels, Washington hingga Denpasar, itu suara lain.

Itu suara lonceng kematian aliansi Barat.

Barangnya bukan emas. Kuno. Bukan minyak. Lewat. Tapi Tanah Jarang (Rare Earth Elements – REE). Spesifiknya: Dysprosium, Terbium, dan Yttrium.

Ini “nyawa” dari setiap magnet. Dan magnet adalah detak jantung teknologi masa depan.

DUEL PARA HANTU

DI BUKIT beku kompleks Ilimaussaq itu, ada dua “hantu” geologis yang sedang beradu kuat.

Hantu Kiri: Kvanefjeld. Raksasa. Cadangannya 1 miliar ton bijih. Tapi napasnya beracun: batuan Steenstrupine-nya mengandung Uranium tinggi (>300 ppm).

Dan menariknya: Ia sudah “dikawini” Tiongkok. Lewat Shenghe Resources, Beijing sudah menancapkan bendera merah di sana.

Hantu Kanan: Tanbreez. Ini bukan sekadar raksasa. Ini monster geologi. Cadangannya menembus 4,3 miliar ton bijih Eudialyte. Terbesar di muka bumi untuk jenis batuan ini.

Isinya bukan recehan. Ia kaya akan Heavy Rare Earths (tanah jarang berat) sebesar 27 persen juga jenis yang paling langka dan paling dicari untuk teknologi militer.

Tapi keunggulan utamanya bukan ukurannya. Melainkan “kesuciannya”.

Ia “perawan”. Kadar Uraniumnya sangat rendah, di bawah 15 ppm. Jauh di bawah ambang batas bahaya.

Artinya: Ia bersih. Tidak perlu izin nuklir yang buat pusing. Tidak perlu berdebat panjang dengan aktivis lingkungan. Tinggal bawa ekskavator, lalu keruk.

Pemiliknya, seorang geolog Australia bernama Greg Barnes, sudah menjaga harta ini selama dua dekade bak naga menjaga emas.

Dan kini, ia tahu: Pentagon sedang menatapnya dengan mata merah menyala.

Berita Terkait:  Diduga B*n*h D*ri, Pemuda Ini Ditemukan Tewas di Bawah Jembatan Tukad Bangkung

Maka, tutuplah buku geologi Anda sejenak. Persoalan ini sudah melompat jauh dari sekadar urusan gali-menggali.

Bagi Amerika, Tanbreez bukan lagi peluang bisnis. Ia adalah harga diri. Ceritanya sudah bergeser. Bukan lagi soal Tambang. Tapi soal Pendudukan.

DARAH KERING CARACAS

INGAT tanggal 3 Januari lalu. Darah di Caracas belum benar-benar kering.

Caracas jatuh. Presiden Venezuela Nicolás Maduro ditekuk lututnya oleh pasukan khusus AS, Delta Force dan FBI-HRT. Operasi senyap, taktis dan efektif.

Gedung Putih bilang itu penegakan hukum (Law Enforcement). Bohong.

Itu adalah Grand Strategy untuk mengamankan Sabuk Orinoco (cadangan minyak terbesar di dunia).

Sebuah proklamasi ulang Doktrin Monroe. Pesannya benderang: ‘Hemisfer ini Sphere of Influence kami. Haram disentuh kalian.’

Dua hari kemudian, mata Trump langsung menatap ke Utara. Ke Greenland.
Ia bicara lagi soal “membeli” pulau itu. Ia juga bicara soal “Opsi Militer”.

Dulu, Eropa tertawa, hal ini dianggap lelucon badut oranye hidung merah.

Sekarang, setelah mayat-mayat di Caracas belum dingin, tawa itu mati di kerongkongan.

Berapa pemikir geopolitik Eropa, pasti tengah menulis dengan tangan gemetar: “Amerika bukan lagi teman kami. Amerika adalah ancaman.”

PAMAN PEMARAH

COBA Bayangkan skenario maut ini:

Greenland adalah wilayah otonom Denmark. Denmark adalah anggota NATO. Amerika adalah pemimpin NATO.

Jika atas nama National Security, Trump sungguh-sungguh menurunkan pasukan di Nuuk demi mengamankan tambang itu, apa yang akan terjadi?

Dalam Pasal 5 NATO berbunyi: Serangan terhadap satu anggota adalah serangan terhadap semua.

Lantas, jika Amerika menyerang Denmark, apakah Jerman dan Inggris harus menyerang Amerika? Nah…loh.

Di titik itulah NATO bubar. Arsitektur keamanan pasca-Perang Dunia II runtuh dalam semalam.

Eropa akan melihat Washington bukan lagi sebagai “Paman” pelindung, tapi Pemangsa.

Mark Rutte, Sekjen NATO, sudah berbisik di lorong-lorong Brussels: “Eropa harus bersiap perang seperti kakek-nenek kita dulu.”

Ia tidak menyebut musuhnya Rusia. Ia membiarkan kalimat itu menggantung. Pesan tersirat. Mengerikan.

PESAWAT SAKAW

Kenapa Amerika se-desperado itu?

Alasannya banyak. Tapi satu ini yang bikin jantung Amerika mau copot: kokpit jet tempur F-35 Lightning II.

Berita Terkait:  Koster Tegaskan Lima Raperda Strategis Bali Era Baru, Pelindungan Pantai Jadi Kepastian Ruang Adat dan Ekonomi Lokal

Pesawat seharga USD 100 juta itu canggih luar biasa. Tapi ia punya kelemahan fatal: ia pecandu berat. Ia pecandu magnet.

Data teknisnya bikin merinding: Satu unit F-35 butuh 417 kilogram material tanah jarang.

Siripnya butuh aktuator tahan panas. Radarnya (AN/APG-81 AESA) butuh magnet super-kuat.

Magnet itu butuh logam bernama Dysprosium. Dan 99 persen rantai pasok (supply chain) barang itu ada di tangan Tiongkok.

Desember lalu, Xi Jinping melakukan apa yang disebut dalam istilah politik kontemporer sebagai Weaponization of Trade.

Keran ekspor diperketat. Stok di gudang senjata Barat tinggal untuk 3 bulan.

Tanpa logam itu, F-35 cuma rongsokan besi di hanggar.

Maka, Tanbreez di Greenland adalah National Security Imperative.

Tambang ini punya cadangan 28 juta ton Oksida Tanah Jarang. Kaya akan Heavy Rare Earths (27 persen). Dan yang paling penting: Bersih dari Uranium (cuma 16 ppm).

Ini “Kuda Putih”. Satu-satunya aset yang bisa melepaskan leher Amerika dari cekikan Tiongkok.

Juni 2025 lalu, Bank Ekspor-Impor AS (EXIM) diam-diam sudah mengeluarkan surat sakti senilai USD 3 Miliar (Rp 46 Triliun) di sana.

Ini sinyal: Money talks, but Tomahawk walks.

SENI MENIPU MATA TUHAN

TAPI, tunggu dulu. Dalam dunia strategis, ada doktrin bernama Strategic Feint. Tipuan strategis.

Sun Tzu mengajarkan: “Buatlah kegaduhan di Timur, tapi seranglah di Barat.”

Apakah Trump benar-benar akan menyerbu Greenland? Atau ia hanya sedang cek ombak?

Lihat petanya.

Greenland itu es. Logistiknya neraka. Pelabuhan Narsaq cuma sedalam 11 meter.

Butuh waktu 5-10 tahun untuk mengeruk Tanbreez sampai menghasilkan logam jadi. F-35 butuh magnetnya sekarang.

Selain itu, ini soal GIUK Gap (Greenland-Iceland-UK), gerbang laut untuk mencekik kapal selam Rusia.

Sementara itu, di Timur Tengah, sentrifuse nuklir Iran terus berputar di fasilitas Fordow.

Teheran semakin dekat dengan bom nuklir (nuclear breakout). Pemerintahan resmi juga hampir runtuh.

Agen Israel sudah berteriak-teriak di tengah demonstrasi minta lampu hijau untuk menyerang fasilitas Natanz.

Bisa jadi, teriakan Trump soal Greenland adalah “Psy-Ops” (Operasi Psikologis). Atau dalam doktrin Rusia disebut Maskirovka.

Ia ciptakan ketakutan di Utara. Ia paksa Eropa sibuk mengamankan halaman depannya sendiri. Ia biarkan media sibuk membahas es.

Berita Terkait:  Gubernur Koster Ajak Masyarakat Saksikan Peresmian Haluan Pembangunan 100 Tahun Bali Era Baru

Lalu, saat semua mata tertuju ke Narsaq, rudal Tomahawk justru terbang ke gurun Iran.

Siapa tahu, kan?

Dalam Transactional Politics ala Trump, kekacauan adalah tangga.

Trump tidak butuh mineral Greenland sebanyak ia butuh “nama” di peta. Ini soal Empire Cosplay. Ambisi psikologis untuk memperluas teritori.

Sama seperti Putin ingin mengembalikan Uni Soviet, Trump ingin dikenang sebagai Presiden yang “memperbesar” Amerika.

Nafsu ini tidak punya rem. Venezuela kemarin. Greenland hari ini. Iran besok?

MENUNGGU GILIRAN

KITA di Indonesia, harus membaca ini dengan napas tertahan.

Posisi kita agaknya mirip Greenland.

Lihat Morowali. Lihat Halmahera.

Kita punya Nikel (21 juta ton). Kita punya Bauksit. Kita punya Tembaga. Semuanya.

Kita adalah “gadis cantik” di tengah kerumunan preman pasar global.

Saat ini, kita aman karena kita pandai menari “bebas aktif” di antara dua gendang: Beijing dan Washington.

Tapi lihatlah Greenland.

Mereka mencoba mandiri dengan UU No. 20 (melarang Uranium). Mereka mencoba berdaulat.

Hasilnya? Mereka kini terjepit juga.

Perusahaan Australia (Energy Transition Minerals – proksi Tiongkok) menuntut ganti rugi USD 11,5 Miliar.

Membangkrutkan negara lewat Asymmetric Lawfare.
Sementara Amerika datang membawa ancaman aneksasi.

Lihat nasib kita di WTO. Saat stop ekspor mentah, kita digugat Uni Eropa (Sengketa DS 592).

Kedaulatan di era Critical Mineral War ini mahal harganya.

Malam ini, sambil mengaduk capcay hangat di Denpasar, saya membayangkan wajah-wajah pucat di Eropa.

Mereka sadar, persahabatan transatlantik sudah mati.

Amerika bukan lagi Paman mereka. Ia kini menjadi raksasa yang lapar.

Di Narsaq, kapal nelayan memecah es. Suaranya “krak… krak…krak.”

seperti tulang punggung NATO yang bisa saja akan segera patah.

Di bawah tarian Aurora yang indah, serigala-serigala geopolitik itu menyeringai lapar.

Entah besok pagi rantai baja Abrams akan menggilas es Greenland, atau rudal akan menghujani reaktor Iran.

Dunia sedang tidak baik-baik saja.

Dan kita masih ada waktu untuk bisa memesan satu porsi lagi, sambil menatap tajam bersiap menunggu giliran.***

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI