Dari Gerobak Pinjaman ke 21 Gerai: Kisah Putu Agus Bangun Waralaba SUKA Fried Chicken dari Nol

Screenshot_20260204_085726_Photo Editor
Founder SUKA Fried Chicken, Putu Agus Indra Wahyudi menjelaskan produknya di kantornya, Jl. Pulau Alor Permai No. 57 Denpasar, Selasa (3/2/2026). (barometerbali/rah)

Barometer Bali | Denpasar – Perjalanan usaha Putu Agus Indra Wahyudi adalah cerita tentang keberanian memulai, ketekunan belajar, dan kepekaan melihat peluang. Kesuksesan yang diraihnya hari ini tak datang seketika. Semua berawal dari langkah kecil, berjualan sosis dan es krim dengan gerobak pinjaman.

Tahun 2016 menjadi titik awal. Saat itu, Putu Agus belum memiliki gerobak maupun produk. Seorang teman meminjamkan gerobak dan mengajaknya ikut berbagai event kuliner.

“Saya pakai gerobak teman, jualan es krim dan sosis. Gerobaknya saya tempeli brand sendiri. Setelah selesai jualan, spanduknya saya lepas lagi. Itu berjalan sekitar tiga bulan,” ungkapnya kepada awak media, di kantornya Jl. Pulau Alor Permai No. 57 Denpasar, Selasa (3/2/2026).

Memasuki bulan keempat, rasa sungkan meminjam gerobak mendorongnya berbuat lebih. Dari hasil menabung selama mengikuti event kuliner setiap akhir pekan di Denpasar di Lapangan Puputan hingga kampus-kampus, ia akhirnya mampu membuat gerobak sendiri. Lahir di Busungbiu, Buleleng, 27 April 1993, Putu Agus perlahan menguatkan pijakan usahanya.

Berita Terkait:  Demi Bersaing di Pasar Global, Gubernur Koster Siap Lobi Menkeu Purbaya Turunkan Cukai Arak Bali

Di tengah perjalanan, kisah pahit rekan sesama pelaku UMKM yang tertipu franchise fiktif menyentuh nuraninya. Uang hilang, merek tak jelas, dan komunikasi terputus. Dari situlah muncul gagasan besar: menghadirkan solusi kemitraan yang aman dan dibuat oleh orang Bali sendiri. Ia mulai mempelajari konsep waralaba, lalu meluncurkan produk awalnya, Suka Suka Es Krim dan Suka Suka Es Teh. Respons pasar terbukti positif.

Setahun berjalan, pada 2017, Putu Agus membidik segmen yang lebih menantang: ayam goreng cepat saji. Tanpa latar belakang kuliner fried chicken, ia belajar sambil jalan. Bahkan brosur kemitraan awalnya ia susun secara sederhana.

“Saya ambil contoh dari internet, ganti logo, lalu saya sebar di marketplace. Ternyata ada yang menghubungi dan minta disurvei,” kenangnya. Tantangan demi tantangan dihadapi, hingga kemitraan pertama pun terwujud.

Berita Terkait:  Perkuat Ekonomi Kerakyatan, KOPMEN Rejeki Gelar RAT dan Festival UMKM Tahun Buku 2025

Dari situ lahirlah SUKA Fried Chicken di bawah naungan Suka Jaya Indonesia, dengan skema kemitraan Rp115 juta. Meski tanpa modal besar di awal, keberanian menawarkan kemitraan justru membuka jalan.

“Orangnya langsung kasih DP dan minta saya survei lokasi. Saya kerjakan semuanya, dan berhasil,” ujarnya.

Bisnis berkembang pesat. Dari satu gerai, SUKA Fried Chicken kini menjelma menjadi 21 gerai yang tersebar di berbagai kabupaten di Bali. Tak berhenti di sana, Putu Agus juga menggandeng UMKM kecil melalui konsep gerai container AKA Fried Chicken, dengan biaya kemitraan yang lebih terjangkau, Rp22 juta, lengkap dengan booth, peralatan, dan bahan.

Nama “AKA” dipilih sebagai turunan dari “SUKA” dan telah terdaftar di DJKI Kemenkumham.

Semangat inovasi terus menyala. Dua bulan terakhir, Putu Agus membuka usaha Nyate Babi dengan konsep unik: Sate Babi Keliling menggunakan sepeda motor. Beroperasi di kawasan Renon, dekat Museum Bung Karno, konsep jemput bola ini menyasar warga yang melakukan persembahyangan.

Berita Terkait:  Dorong Efisiensi UMKM Kuliner, PLN Kenalkan Kompor Induksi melalui Kompetisi Memasak di Rumah BUMN Denpasar

“Di mana ada upacara keagamaan, kami datangi. Sehari bisa habis 2.000 tusuk. Di tahun 2026 ini target Nyate Bali bisa membuka 10 cabang,” kata Founder SUKA Fried Chicken ini.

Kini, mantan Secretary General JCI Bali 2025 dan di tahun 2026 menjabat sebagai Executive Vice President JCI Bali, Junior chamber internasional Chapter Bali kini telah memiliki 21 Gerai Franchise Suka Fried Chicken.

Putu Agus tak hanya membangun bisnis, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi generasi muda. Baginya, usaha harus memberi manfaat seluas-luasnya. Ia pun membuka diri bagi siapa saja yang ingin berkonsultasi sebelum memulai usaha.

Dari gerobak pinjaman hingga jaringan waralaba, kisah Putu Agus adalah bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang, selama ada kemauan untuk belajar, berani mencoba, dan konsisten melangkah. (rah)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI