AI Bukan Ancaman, Bali AI Summit 2026 Buka Jalan UMKM dan Talenta Muda ke Pasar Global

Screenshot_20260410_000943_Gallery
Bali AI Summit di PIB College ini menghadirkan pemimpin pemikiran di bidang AI dan transformasi digital, antara lain Dr. Idha Kristiana, S.Kom., MMSI (Founder & CEO, V-Teki), Prof. Dr. Ir. Meyliana, S.Kom., MM, IPU, CDMS, CBDMP, CMC (Professor of Information System BINUS University), Dr. Ir. Indrajani Sutedja, S.Kom., M.M. (Director of Talent, Indonesian AI Society), Made Herry Erika Sedana, M.Tr.Par., M.Sc. (Director of Partnership & Event PIB College), serta Andy Febrico Bintoro, S.Kom., BCL, MBA (CTO & Co-Founder Maxy Academy). (barometerbali/rah)

Barometer Bali | Tabanan – Penyelenggaraan Bali AI Summit 2026 di Politeknik International Bali (PIB) College pada 9 – 10 April 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi Bali sebagai “regional AI hub” sekaligus membuka peluang investasi, riset, dan pengembangan talenta digital di Indonesia.

Forum ini juga menghadirkan ruang kolaborasi lintas sektor, mulai dari mahasiswa, profesional, hingga pelaku usaha yang ingin terlibat dalam transformasi ekonomi digital.

Ketua Indonesia AI Society, Hendy Risdianto Wijaya, menegaskan bahwa Bali AI Summit tidak hanya berfungsi sebagai forum diskusi, melainkan wadah untuk menghasilkan solusi konkret yang dapat langsung diterapkan di dunia industri dan pendidikan.

“Pertemuan ini bertujuan menghasilkan sesuatu yang konkret dan bisa dimanfaatkan. Karena itu kami mengundang banyak praktisi agar peserta bisa melihat praktik langsung, termasuk bagaimana coding dengan AI meskipun bukan dari latar belakang teknologi,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa implementasi AI tidak bisa dihindari, sehingga literasi menjadi kunci utama. Menurutnya, pemahaman yang baik akan membantu masyarakat menilai akurasi hasil yang dihasilkan oleh teknologi tersebut.

“Implementasi AI harus diiringi literasi. Orang yang menggunakan AI harus paham apa yang dikerjakan, karena AI bisa menghasilkan sesuatu yang salah jika tidak dipahami. Literasi inilah yang membantu kita menilai apakah hasil AI itu benar atau tidak,” jelasnya.

Berita Terkait:  Go International, PIB College Kembangkan Kuliner Sehat Berbasis Traditional Chinese Medicine

Hendy juga menyoroti pentingnya transparansi dalam penggunaan AI, khususnya di dunia akademik dan publikasi ilmiah. Penggunaan AI tetap diperbolehkan, namun harus disertai penjelasan proses dan prompt yang digunakan guna menjaga originalitas serta pemahaman pengguna.

Sementara itu, Deputy Director PIB College, Dr. Paulus Herry Arianto, menjelaskan bahwa AI merupakan teknologi berbasis co-creation, yakni kolaborasi antara manusia dan mesin untuk meningkatkan produktivitas dan inovasi.

“AI tidak menggantikan manusia, tetapi membantu pekerjaan manusia. Konsepnya adalah co-creation, sehingga manusia tetap menjadi aktor utama dalam ekonomi digital,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa PIB College telah mengintegrasikan AI dalam program bisnis digital yang berfokus pada sektor pariwisata, hospitality, dan gastronomi. Pemanfaatan AI dinilai mampu menghadirkan inovasi layanan, analisis kebutuhan wisatawan, hingga pengembangan produk kuliner.

“Implementasi AI di bidang tourism dan hospitality akan membuka peluang baru dalam ekonomi kreatif dan digital. Ini menjadi bagian dari strategi membangun ekosistem ekonomi berbasis teknologi,” katanya.

Menurutnya, AI bukan untuk ditakuti, melainkan dimanfaatkan sebagai alat untuk meningkatkan potensi masyarakat, termasuk UMKM dan generasi muda agar lebih kompetitif di era digital.

Berita Terkait:  Buka Koncab XXIII PGRI Dawan, Wabup Tjok Surya Tekankan Komitmen dan Peningkatan Mutu Pendidikan

Direktur PIB College, Prof. Anastasia Sulistyawati, menegaskan bahwa tantangan terbesar dalam pengembangan AI adalah membangun kepercayaan publik terhadap teknologi tersebut.

“Banyak orang masih takut digantikan oleh AI. Padahal, jika literasi dan pemahaman dibangun dengan baik, AI justru bisa membuka peluang baru, termasuk bagi UMKM dan generasi muda,” ungkapnya.

Ia juga mencontohkan bagaimana AI membuka peluang bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk terjun ke industri digital, bahkan menciptakan karya inovatif dalam waktu singkat.

Dalam diskusi tersebut, para akademisi turut menyoroti fenomena AI sebagai “aktor semu” dalam ekonomi. Meski memiliki peran signifikan, AI belum dapat diakui sebagai subjek hukum karena tidak memiliki tanggung jawab atas keputusan yang dihasilkan. Kondisi ini dikenal sebagai black box syndrome, di mana pengguna hanya memahami input dan output tanpa mengetahui proses di dalamnya. Karena itu, transparansi dan pemahaman menjadi aspek krusial dalam pengembangan teknologi AI ke depan.

Para pembicara juga menegaskan bahwa kekhawatiran terhadap hilangnya lapangan kerja perlu diimbangi dengan kesiapan adaptasi, karena AI justru membuka peluang baru di berbagai sektor.

Berita Terkait:  SNIPER Kukuhkan Dominasi: Juara Umum I Walikota Cup XVI 2026

Salah satu contoh nyata adalah mahasiswa dari latar belakang non-teknologi yang mampu menciptakan produk digital, seperti game, dalam waktu singkat dengan bantuan AI. Bahkan, sebagian di antaranya berhasil menembus industri kreatif global.

Bali AI Summit 2026 juga diharapkan dapat mendorong pemberdayaan UMKM melalui pemanfaatan AI, sehingga pelaku usaha kecil mampu meningkatkan daya saing dan menjangkau pasar digital global.

Melalui kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah, forum ini menjadi langkah strategis untuk mempercepat transformasi digital nasional sekaligus memperkuat posisi Bali sebagai pusat inovasi teknologi dan ekonomi kreatif di tingkat regional.

Kegiatan ini menghadirkan berbagai sesi diskusi, keynote speech, dan sharing session dari para pemimpin pemikiran di bidang AI dan transformasi digital, antara lain Dr. Idha Kristiana, S.Kom., MMSI (Founder & CEO, V-Teki), Prof. Dr. Ir. Meyliana, S.Kom., MM, IPU, CDMS, CBDMP, CMC (Professor of Information System BINUS University), Dr. Ir. Indrajani Sutedja, S.Kom., M.M. (Director of Talent, Indonesian AI Society), Made Herry Erika Sedana, M.Tr.Par., M.Sc. (Director of Partnership & Event PIB College), serta Andy Febrico Bintoro, S.Kom., BCL, MBA (CTO & Co-Founder Maxy Academy). (rah)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI