Barometer Bali | Denpasar – Bank Indonesia bersama Pemerintah Provinsi Bali melalui Pusat Investasi Kerthi Bali Sadhana (PIKBS) menggelar Bali Jagadhita Investment Forum (BJIF) 2026 sebagai upaya memperkuat kualitas dan pemerataan investasi di Bali dan Nusa Tenggara. Forum ini menghadirkan 22 proyek investasi strategis dari Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) kepada lebih dari 35 investor domestik dan internasional.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani, menjelaskan bahwa forum tersebut menjadi wadah promosi proyek investasi potensial yang telah siap ditawarkan (Investment Project Ready to Offer/IPRO) dari kawasan Balinusra. Proyek yang dipromosikan mencakup sektor infrastruktur, hilirisasi, pariwisata, perdagangan, dan berbagai sektor unggulan lainnya. Pendekatan kawasan Balinusra dilakukan untuk memperkuat konektivitas ekonomi regional sekaligus menciptakan peluang investasi yang saling melengkapi antarwilayah.
Penyelenggaraan BJIF 2026 dilatarbelakangi oleh kinerja investasi Bali yang terus menunjukkan pertumbuhan positif. Sepanjang tahun 2025, realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp42,82 triliun dengan penyerapan lebih dari 68 ribu tenaga kerja. Namun demikian, tantangan masih dihadapi karena 88 persen investasi masih terkonsentrasi di wilayah Bali Selatan dan 97 persen didominasi sektor tersier. Kondisi tersebut mendorong perlunya investasi yang lebih merata dan terdiversifikasi.
Rangkaian kegiatan forum meliputi showcasing proyek unggulan Bali dan Nusa Tenggara, sesi one on one business meeting antara pemilik proyek dan calon investor, serta kunjungan lapangan ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan Sanur yang merupakan KEK kesehatan pertama di Indonesia.
Saat membuka forum, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Bali, Ketut Sukra Negara, menyampaikan bahwa Bali memiliki berbagai proyek unggulan yang terbuka bagi investor. Menurutnya, dukungan insentif pemerintah dan reputasi Bali sebagai destinasi kelas dunia menjadi daya tarik tersendiri bagi investasi. Ia juga mengajak investor domestik maupun internasional untuk berpartisipasi dalam pembangunan Bali melalui investasi yang berkualitas.
Proyek-proyek yang dipresentasikan dalam forum merupakan hasil kurasi Bali Investment Challenge 2026. Sejumlah proyek unggulan yang ditawarkan antara lain KEK Kesehatan Sanur, proyek penerangan jalan, dan pengadaan kendaraan listrik (electric vehicle). Seluruh proyek tersebut dihimpun dalam Katalog Investasi yang diserahkan kepada para duta besar dan delegasi negara sahabat yang hadir dalam forum.
Forum ini turut dihadiri para investor dari berbagai negara serta sejumlah perwakilan diplomatik, termasuk Duta Besar Bulgaria, Bahrain, Oman, Armenia, Pakistan, dan Rumania. Kehadiran para delegasi internasional diharapkan dapat memperluas promosi proyek strategis daerah sekaligus meningkatkan realisasi investasi di Bali dan kawasan Nusa Tenggara.
Bank Indonesia memperkirakan perekonomian Bali pada tahun 2026 tetap tumbuh solid di kisaran 5,4 hingga 5,9 persen. Dengan inflasi yang terjaga, optimisme pelaku usaha yang kuat, serta dukungan insentif pemerintah, peluang peningkatan investasi di Bali dinilai semakin terbuka. Melalui Bali Jagadhita Investment Forum 2026, Bank Indonesia dan Pemerintah Provinsi Bali berkomitmen memperluas akses investor terhadap proyek-proyek strategis daerah guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkualitas, dan berkelanjutan. (rah)











