Refleksi Hari Anak Nasional ke-42, Ny. Putri Koster: Peran Orang Tua Jadi Kunci Membangun Generasi Unggul

IMG-20260729-WA0152
Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 tingkat Provinsi Bali Tahun 2026 berlangsung di Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Provinsi Bali, Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, Rabu (29/7/2026)(Barometerbali/istimewa)

Barometer Bali | Karangasem – Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 tingkat Provinsi Bali Tahun 2026 berlangsung di Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Provinsi Bali, Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, Rabu (29/7/2026) pagi.

Mengusung tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”, kegiatan ini menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian seluruh elemen masyarakat terhadap pemenuhan hak dan perlindungan anak, sekaligus mendorong terciptanya lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak.

Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, yang hadir sebagai pembicara utama, menyampaikan bahwa peringatan HAN ke-42 tidak hanya menempatkan anak sebagai pusat perhatian, tetapi juga menjadi momentum refleksi bagi para orang tua dalam mendidik dan mengasuh anak, khususnya di tengah perkembangan teknologi digital.

Ny. Putri Koster menilai Program Sekolah Rakyat sangat membantu dalam memberikan akses pendidikan, khususnya bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Program yang dilengkapi dengan fasilitas asrama tersebut dinilai membuka peluang lebih luas bagi anak-anak untuk memperoleh pendidikan yang layak.

“Ibu baru pertama kali datang ke sini, dan sekolah ini luar biasa. Anak-anak sudah difasilitasi negara,” ungkapnya.

Berita Terkait:  Gubernur Wayan Koster dan Ny. Putri Koster Saksikan Pementasan yang Mengangkat Perjalanan Sukarno di Ende

Melalui peringatan HAN, Ny. Putri Koster menekankan pentingnya evaluasi diri bagi orang tua. Menurutnya, perkembangan zaman turut membawa perubahan dalam pola pengasuhan, terutama terhadap Generasi Z dan Generasi Alfa yang tumbuh berdampingan dengan teknologi digital.

Karena itu, orang tua dituntut mampu beradaptasi, tidak hanya dengan melindungi anak dari dampak negatif teknologi dan media sosial, tetapi juga membimbing mereka agar tumbuh mandiri dan bertanggung jawab. Perubahan pola pengasuhan antara masa lalu dan masa kini pun menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga.

“Dulu, anak diajarkan untuk mengakui kesalahan dengan ikhlas. Sekarang, tidak jarang anak tidak mau disalahkan, bahkan orang tua ikut menyalahkan guru atau sekolah,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ny. Putri Koster menekankan pentingnya peran orang tua dalam membentuk karakter anak. Menurutnya, pendidikan tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada sekolah, tetapi harus dimulai dari lingkungan keluarga. Menyayangi anak bukan berarti memanjakan, sementara melindungi anak bukan berarti memberikan proteksi secara berlebihan.

Ny. Putri Koster juga menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Bali menunjukkan komitmen dalam membangun generasi unggul melalui Program “Satu Keluarga Satu Sarjana”. Melalui program tersebut, Gubernur Bali menargetkan tidak ada lagi anak Bali yang tidak memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan hingga jenjang sarjana.

Berita Terkait:  Tingkatkan Kompetensi Pengelola Keuangan, Sekda Eddy Mulya Buka Pelatihan Pengelolaan Keuangan Daerah

Program Sekolah Rakyat diharapkan menjadi salah satu solusi nyata untuk mendukung cita-cita tersebut, terutama bagi anak-anak dari keluarga dengan kondisi ekonomi kurang mampu.

Para orang tua juga diimbau memiliki kesadaran untuk menjadikan pendidikan anak sebagai investasi masa depan, termasuk dengan memprioritaskan kebutuhan pendidikan dibandingkan kepentingan atau kesenangan pribadi.

Pepatah “guru kencing berdiri, murid kencing berlari” menjadi pengingat bahwa teladan orang dewasa sangat menentukan pembentukan karakter dan arah perkembangan anak. Dengan fondasi pendidikan dan karakter yang kuat, generasi masa depan diharapkan mampu berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia Emas.

Sebelumnya, Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Provinsi Bali, A.A. Sagung Mas Dwipayani, dalam laporannya menyampaikan bahwa peringatan HAN 2026 menjadi momentum untuk menegaskan komitmen bersama dalam melindungi dan memenuhi hak-hak anak.

Berita Terkait:  Wabup Bagus Alit Sucipta Serahkan Penghargaan Tertib Administrasi Akta Kematian di Abiansemal

Ia menekankan bahwa anak bukan sekadar objek perhatian, melainkan individu yang harus dihormati, didengar pendapatnya, serta dilindungi dari berbagai bentuk ancaman. Setiap anak memiliki hak untuk tumbuh, berkembang, memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan, serta berpartisipasi dalam lingkungan yang aman dan penuh kasih sayang.

Peringatan HAN juga menjadi pengingat bagi seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang semakin ramah anak, sehingga setiap anak dapat tumbuh secara optimal dan memperoleh kesempatan meraih masa depan yang lebih baik.

Kegiatan ini turut menghadirkan sejumlah narasumber di bidang perlindungan dan perkembangan anak, antara lain Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah Provinsi Bali, Ni Luh Gede Yastini; Asisten Manajer Madya pada Divisi Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen Kantor OJK Provinsi Bali, Kadek Kharisma Suryandari; serta Norma Arindri Dangkua dari HIMPSI Bali. Rangkaian kegiatan diakhiri dengan hiburan bondres.

Turut hadir Ketua TP PKK Kabupaten Karangasem, Kepala Dinas Sosial P3A Kabupaten Karangasem, Camat Kubu, serta Kepala Sekolah Rakyat. (red)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI