Barometer Bali | Denpasar – Memasuki usia ke-24, Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) STIKOM Bali terus memperkuat posisinya sebagai perguruan tinggi berbasis teknologi dengan memperluas jejaring pendidikan dan kerja sama internasional.
Hal tersebut ditandai penandatanganan sejumlah kerja sama dengan perguruan tinggi dan mitra luar negeri dalam puncak Dies Natalis ke-24 ITB STIKOM Bali di Aula Kampus ITB STIKOM Bali, Senin (10/8/2026) malam.
Kerja sama internasional tersebut di antaranya dilakukan bersama Kansai University of International Studies, Jepang, EA Exchange by Honey Hills Group, serta Essex University, Inggris.
Rektor ITB STIKOM Bali, Dr. Dadang Hermawan, mengatakan penguatan jejaring internasional menjadi bagian dari upaya kampus menyiapkan lulusan yang mampu bersaing di tengah perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja global.
Saat ini, ITB STIKOM Bali memiliki 6.182 mahasiswa yang tersebar pada enam program studi dan tiga program Dual Degree. Program tersebut terdiri atas satu program D3, empat S1 dan satu S2.
Adapun program Dual Degree dikembangkan bersama Universitas Teknologi Bandung, HELP University Malaysia dan Dalian Neusoft University of Information China.
“Internasionalisasi kampus terus kami dorong agar mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengalaman akademik di dalam negeri, tetapi juga memiliki wawasan dan pengalaman global,” ujar Dadang Hermawan.
Menurutnya, penguatan jejaring tersebut juga diwujudkan melalui program pertukaran mahasiswa dan dosen. Pada 2025, sebanyak 17 mahasiswa dan lima dosen ITB STIKOM Bali mengikuti program student and faculty exchange ke perguruan tinggi mitra di Thailand dan China.
Di sisi lain, ITB STIKOM Bali menerima 63 dosen dan 79 mahasiswa dari China, Uzbekistan, Thailand dan Filipina melalui program Lecturer and Students Exchange.
Saat ini, empat mahasiswa dari Polytech Montpellier, Prancis, juga mengikuti program International Internship. Selain itu, sekitar 180 mahasiswa ITB STIKOM Bali sedang menjalani program magang kerja di Jepang dan Taiwan.
Penguatan kualitas sumber daya manusia juga menjadi perhatian kampus. ITB STIKOM Bali kini memiliki 225 dosen tetap. Sebanyak 31 dosen telah berpendidikan S3, sementara 28 dosen lainnya sedang menempuh pendidikan S3 di dalam maupun luar negeri. Sebanyak 111 dosen telah lulus sertifikasi dosen.
Dari sisi riset dan inovasi, civitas akademika ITB STIKOM Bali telah menghasilkan 241 Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Kinerja penelitian juga terus meningkat. Pada 2026, SINTA Overall institusi mencapai 100.568 dengan kinerja tiga tahun terakhir sebesar 34.711. Capaian itu menempatkan ITB STIKOM Bali di peringkat 270 dari 5.559 perguruan tinggi di Indonesia dan peringkat keenam dari 108 perguruan tinggi di lingkungan LLDIKTI Wilayah VIII.
Untuk penelitian internal tahun 2025/2026, kampus mendanai 69 judul penelitian dengan total anggaran Rp1,48 miliar. Sementara program pengabdian kepada masyarakat mencapai 70 judul dengan anggaran Rp1,23 miliar.
Pada 2026, ITB STIKOM Bali juga memperoleh hibah eksternal sebesar Rp971,23 juta untuk 13 judul penelitian. Sebelumnya, pada 2025 terdapat 10 judul penelitian yang memperoleh hibah eksternal senilai Rp457,736 juta serta dua judul pengabdian masyarakat dengan pendanaan Rp88,803 juta.
Pembina Yayasan Widya Dharma Shanti (YWDS) Denpasar, Prof. Dr. I Made Bandem, MA, mengatakan perkembangan teknologi harus tetap berjalan beriringan dengan nilai kemanusiaan.
Menurutnya, kemajuan teknologi seperti artificial intelligence (AI), big data, robotika dan Internet of Things (IoT) tidak boleh membuat perguruan tinggi mengabaikan aspek etika dan karakter.
“Teknologi harus tetap memiliki jiwa, kecerdasan harus tetap memiliki kebijaksanaan, dan kemajuan harus tetap memiliki nilai,” kata Prof. Bandem.
Ia menegaskan, keberhasilan perguruan tinggi tidak cukup hanya dilihat dari jumlah lulusan maupun capaian akademik. Lebih jauh, perguruan tinggi harus mampu menghasilkan ilmu pengetahuan dan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Mahasiswa jangan hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka harus mampu menjadi pencipta teknologi yang beretika dan berkarakter,” tegasnya.
Komitmen terhadap akses pendidikan juga ditunjukkan melalui program beasiswa. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, ITB STIKOM Bali bersama YWDS Denpasar telah memberikan beasiswa kepada 11.002 mahasiswa dengan total nilai mencapai Rp68,955 miliar.
Selain itu, sebanyak 352 mahasiswa memperoleh beasiswa pemerintah melalui KIP, BBP dan Bidikmisi dengan total pendanaan Rp4,99 miliar.
Di bidang kewirausahaan, Inkubator Bisnis STIKOM Bali juga berhasil mengantarkan dua startup binaannya, OnJourney dan selfcare.id, masuk dalam 10 besar startup nasional melalui program e-Hub Accelerator Kementerian UMKM.
Kedua startup tersebut berhasil menyisihkan lebih dari 500 startup dari seluruh Indonesia dan memperoleh hadiah lebih dari USD20.000.
Sementara itu, kerja sama dengan Kansai University of International Studies diarahkan untuk pengembangan student exchange dan program double degree. Kerja sama dengan EA Exchange by Honey Hills Group mencakup program training selama satu tahun melalui jalur visa J-1 ke Amerika Serikat serta kolaborasi program pascasarjana.
Sedangkan kerja sama dengan Essex University diarahkan pada program double degree bagi mahasiswa asing yang nantinya diselenggarakan di ITB STIKOM Bali. (rian)










