Barometer Bali | Badung – Transformasi program pembinaan kemandirian di Lapas Kelas IIA Kerobokan terus diarahkan pada penguatan ekonomi kreatif berbasis pelestarian lingkungan. Hal ini ditunjukkan melalui partisipasi aktif Lapas Kerobokan dalam pameran produk hasil karya warga binaan berbahan limbah dan daur ulang yang digelar komunitas Kawan Alam di Discovery Mall Kuta, pada 24–26 April 2026.
Kegiatan bertajuk Exhibition Produk Hasil Karya Warga Binaan tersebut menjadi ruang edukasi publik sekaligus bagian dari peringatan Hari Bumi dan Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-62, dengan menampilkan berbagai produk kreatif hasil pembinaan yang memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai lingkungan.
Dalam kegiatan tersebut, Senator RI asal Bali, Ni Luh Djelantik, hadir langsung meninjau stan pameran dan memberikan apresiasi atas kualitas karya warga binaan. Bahkan, ia turut membeli sejumlah produk sebagai bentuk dukungan nyata terhadap program pembinaan berbasis kreativitas berkelanjutan.
“Karya-karya ini sangat inspiratif. Saya melihat langsung bagaimana warga binaan mampu mengubah limbah menjadi produk bernilai. Ini bukan hanya soal kreativitas, tetapi juga tentang harapan dan kesempatan kedua,” ujar Ni Luh Djelantik saat meninjau pameran.
Untuk mendukung transparansi dan profesionalisme pengelolaan hasil karya warga binaan, Lapas Kerobokan juga menerapkan sistem pembayaran digital selama kegiatan berlangsung. Sistem tersebut memudahkan transaksi non-tunai sekaligus meningkatkan akuntabilitas pengelolaan hasil penjualan.
Secara terpisah, Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Bali, Decky Nurmansyah, menilai partisipasi Lapas Kerobokan dalam pameran publik merupakan bukti nyata keberhasilan program pembinaan yang semakin adaptif dan produktif.
“Partisipasi dalam pameran ini menunjukkan bahwa proses pembinaan berjalan secara nyata dan terukur. Ini menjadi bentuk transparansi kepada masyarakat bahwa warga binaan memiliki kemampuan produktif dan siap kembali berkontribusi secara positif,” tegasnya.
Sementara itu, Kalapas Kerobokan, Hudi Ismono, menegaskan bahwa pembinaan berbasis kreativitas ramah lingkungan menjadi salah satu fokus utama dalam membangun kemandirian warga binaan.
“Karya dari material daur ulang ini membuktikan bahwa keterbatasan ruang bukan penghalang untuk berkontribusi bagi kelestarian bumi. Justru dari sini lahir semangat baru untuk berkarya dan mandiri,” jelasnya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus diperluas sebagai sarana memperkenalkan hasil pembinaan kepada masyarakat sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga binaan setelah kembali ke lingkungan sosialnya. (red)










