Barometer Bali | Buleleng – Gubernur Bali Wayan Koster menghadiri pelepasan perjalanan suci Waisak para bhikkhu menuju Candi Borobudur di Brahma Vihara Arama, Kabupaten Buleleng, Sabtu, (9/5/2026).
Momen tersebut menjadi simbol kuat penyebaran pesan toleransi, kedamaian, dan keharmonisan dari Bali untuk Indonesia hingga dunia.
Dalam sambutannya, Koster mengaku terkesan dengan kegiatan spiritual yang dinilai tidak hanya memiliki makna religius, tetapi juga membawa pesan sosial yang mendalam bagi kehidupan berbangsa.
“Pertama, mengucapkan terima kasih atas undangannya ini. Sekaligus juga, saya baru pertama kali berkunjung di wihara yang megah ini,” ujar Koster di hadapan para bhikkhu dan umat yang hadir.
Menurutnya, perjalanan suci menuju Borobudur bukan sekadar ritual keagamaan biasa, melainkan simbol perjalanan spiritual yang membawa semangat perdamaian dan toleransi di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
“Semoga kegiatan yang dijalankan dengan niat mulia dan suci ini betul-betul menjadi sumber inspirasi bagi kita semua, tidak saja masyarakat Bali, tetapi juga masyarakat dan bangsa Indonesia untuk selalu hidup dengan penuh toleransi dan kedamaian,” katanya.
Koster menegaskan, nilai-nilai yang tercermin dalam perjalanan suci tersebut sejalan dengan visi pembangunan Bali melalui konsep Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yang menekankan pentingnya menjaga kesucian dan keharmonisan alam beserta isinya demi kesejahteraan masyarakat.
Ia juga memberikan apresiasi kepada para bhikkhu dari berbagai negara seperti Laos, Thailand, Kamboja, dan Malaysia yang ikut dalam perjalanan spiritual bersama puluhan bhikkhu dari Bali.
“Ini luar biasa. Baru pertama kali kita melihat kegiatan seperti ini dilakukan oleh para bhikkhu yang mulia,” ucapnya.
Perjalanan suci itu dijadwalkan berlangsung hampir 20 hari dengan melintasi empat provinsi sebelum tiba di Candi Borobudur pada 28 Mei mendatang.
Bagi Pemerintah Provinsi Bali, perjalanan tersebut tidak hanya dimaknai sebagai perjalanan fisik, tetapi juga simbol keteguhan niat, disiplin spiritual, dan pesan persaudaraan lintas bangsa.
Dari sebuah wihara di Bali Utara, langkah para bhikkhu kini membawa pesan damai menembus batas pulau dan provinsi, sekaligus menjadi pengingat bahwa di tengah keberagaman, Indonesia tetap dapat berdiri kokoh dengan semangat toleransi dan keharmonisan. (red)










