Kuota 30 Persen Disahkan MK, Tutik Ungkap Beratnya Perjuangan Perempuan Tembus Senayan

Screenshot_20260529_002015_ChatGPT
Anggota Komisi IX DPR RI dapil Bali, Tutik Kusuma Wardhani menyoroti beratnya perjuangan perempuan untuk bisa menembus parlemen, khususnya DPR RI atau Senayan disampaikan saat konferensi pers di Denpasar, Kamis (28/5/2026). (barometerbali/ilustrasi/rian)

Barometer Bali | Denpasar – Anggota Komisi IX DPR RI dapil Bali, Tutik Kusuma Wardhani menyoroti beratnya perjuangan perempuan untuk bisa menembus parlemen, khususnya DPR RI atau Senayan.

Menurutnya, kerasnya dunia politik dan tingginya biaya politik masih menjadi tantangan besar bagi kaum perempuan.

“Karena dunia politik ini memang betul-betul sangat keras sehingga kaum perempuan ini menarik diri lagi,” ungkap politisi Partai Demokrat tersebut kepada awak media di Denpasar, Kamis (28/5/2026).

Sebagai satu-satunya anggota DPR RI perempuan asal daerah pemilihan (dapil) Bali, Tutik mengaku merasakan langsung beratnya persaingan politik di tingkat nasional. Ia menyebut keterwakilan perempuan di Senayan hingga kini masih jauh dari target 30 persen.

Berita Terkait:  Nyoman Parta Tolak PPN Sembako: Jangan Bebani Meja Makan Rakyat

“Di DPR RI, kami sekarang hanya memiliki 127 perempuan dari total 580 anggota. Untuk mencapai target 30 persen, setidaknya harus ada 174 orang. Perjuangan kami masih berat sekali,” terang Tutik.

Menurutnya, banyak perempuan cerdas dan berkualitas sebenarnya memiliki kemampuan untuk terjun ke dunia politik. Namun tekanan politik yang masih didominasi “power maskulin” membuat banyak perempuan memilih mundur sebelum bertarung.

“Kaum perempuan banyak sekali di luar sana yang cerdas, yang berkualitas, tidak berani masuk ke dunia politik karena tekanan politik di negeri kita ini sungguh sangat luar biasa,” bebernya.

Berita Terkait:  Putri Koster Tegaskan Disiplin Rumah Tangga sebagai Kunci Gerakan Kulkul PKK Wujudkan Bali Bersih

Selain tekanan politik, Tutik menilai perempuan juga masih menghadapi hambatan kultural dan peran ganda dalam keluarga. Belum lagi realitas politik berbiaya tinggi (high cost politics) yang sering membuat calon politisi perempuan kehabisan sumber daya sebelum pemilu berlangsung.

Kendati demikian, Tutik menyambut baik putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 128/PUU-XXIV/2026 tentang kuota keterwakilan perempuan sebesar 30 persen dalam pengajuan bakal calon anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota pada pemilu. Ia menilai putusan tersebut menjadi angin segar bagi perempuan yang ingin berkarier di dunia politik.

Berita Terkait:  Belajar ke Bali, Gubernur Siquijor Filipina Terima Beragam Masukan Penting dari Gubernur Koster

Di sisi lain, Tutik juga menilai Partai Demokrat telah memberikan ruang bagi perempuan untuk berkontestasi di dunia politik.

“Saya kira pemimpin kami sangat peka terhadap keputusan-keputusan yang berpihak kepada masyarakat secara luas, terutama khusus untuk perempuan,” jelasnya.

Ia pun mengajak masyarakat, khususnya kaum perempuan, untuk saling mendukung agar keterwakilan perempuan di parlemen semakin kuat.

“Ayo perempuan tolong dong, please, pilih perempuan agar bisa aspirasinya diperjuangkan di kancah politik. Karena sangat penting sekali perempuan-perempuan yang cerdas dan berkualitas ini duduk di parlemen ataupun di eksekutif,” pungkas Tutik. (rian)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI