OJK: Perbankan Tetap Optimis, IEK Tembus 83, Waspada Ketidakpastian Global

Screenshot_20260911_103258_ChatGPT
Keterangan ilustrasi: Laporan hasil SBPO Triwulan III-2026 lebih lengkap dapat dilihat pada website OJK (www.ojk.go.id/id/kanal/perbankan/data-dan-statistik/survei-perbankan). (Barometer Bali/Ilustrasi AI)

Barometer Bali | Jakarta – Industri perbankan nasional tetap optimistis menghadapi triwulan III-2026 meski ketidakpastian ekonomi global dan domestik meningkat. Hal tersebut tercermin dari Indeks Orientasi Bisnis Perbankan (IBP) yang mencapai 56 atau berada dalam zona optimistis, namun ketidakpastian global mesti diwaspadai.

Hasil itu diperoleh dari Survei Orientasi Bisnis Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (SBPO OJK) pada Juli 2026. Survei melibatkan 99 bank yang mewakili 97,91 persen total aset bank umum berdasarkan data Juni 2026.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, hasil survei menunjukkan industri perbankan masih memiliki keyakinan kuat terhadap prospek kinerja dan kemampuannya mengelola risiko.

“Hasil SBPO menunjukkan industri perbankan masih optimistis terhadap prospek kinerja dan memiliki keyakinan untuk mengelola risiko. Optimisme tersebut tercermin dari proyeksi pertumbuhan kinerja perbankan dan kemampuan bank dalam menjaga risiko tetap terkendali,” ungkap Dian dalam keterangan tertulis, Kamis (10/9/2026).

Berita Terkait:  Sarjito Dilantik Ketua MA, OJK Perkuat Pengawasan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis

Optimisme paling kuat terlihat pada Indeks Ekspektasi Kinerja (IEK) yang mencapai 83. Perbankan memperkirakan penyaluran kredit tetap tumbuh, sejalan dengan meningkatnya permintaan dan ekspansi kredit melalui pipeline yang tersedia.

Sektor industri pengolahan diproyeksikan tetap menjadi salah satu penggerak pertumbuhan kredit. Sektor yang paling mendominasi penyaluran kredit perbankan tersebut mencatat pertumbuhan sebesar 16,85 persen secara tahunan atau year-on-year pada Juli 2026.

Dari sisi risiko, Indeks Persepsi Risiko (IPR) tercatat sebesar 57 atau tetap berada dalam zona optimistis. Mayoritas responden meyakini kualitas kredit tetap terjaga, sedangkan Posisi Devisa Neto (PDN) berada pada level rendah.

Aset dan tagihan valuta asing perbankan juga tercatat lebih besar dibandingkan kewajiban valuta asing atau berada dalam posisi long. Sementara itu, risiko likuiditas diperkirakan tetap terkendali.

Berita Terkait:  Hari Pelanggan Nasional, PLN Perkuat Sinergi Dorong Ekonomi Bali

Responden memperkirakan alat likuid perbankan dan Dana Pihak Ketiga (DPK) tetap tumbuh pada triwulan III-2026. Pertumbuhan DPK yang diproyeksikan lebih tinggi dibandingkan penyaluran kredit turut mendorong peningkatan arus kas bersih atau net cashflow perbankan.

Perbankan juga terus mengoptimalkan penghimpunan sumber dana untuk menopang ekspansi kredit sekaligus menjaga likuiditas.

Meski demikian, industri perbankan tetap mencermati dinamika perekonomian, terutama potensi peningkatan inflasi dan suku bunga acuan global. Seluruh responden bank umum menunjukkan kewaspadaan tinggi terhadap ketidakpastian global yang diperkirakan dapat berlangsung dalam jangka panjang dan berisiko memburuk.

Kondisi tersebut dinilai dapat memberikan dampak signifikan terhadap prospek dan kinerja perekonomian nasional. Namun, berbagai indikator utama sektor perbankan hingga kini masih menunjukkan kinerja dan ketahanan yang terjaga.

“Hal itu tercermin dari pertumbuhan kredit yang tetap positif, permodalan kuat, serta likuiditas yang memadai di tengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik,” tegasnya.

Berita Terkait:  Perkuat Sinergi dan Tata Kelola, Bank BPD Bali Jalin Kerja Sama dengan Kejati Bali di Bidang Perdata dan TUN

OJK menilai keberlanjutan kinerja perbankan membutuhkan dukungan ekosistem ekonomi yang sehat, stabil, dan kondusif. Dukungan tersebut diperlukan agar fungsi intermediasi perbankan dapat berjalan optimal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Momentum pertumbuhan ekonomi juga perlu dijaga melalui berbagai upaya yang mendukung stabilitas, produktivitas, dan peningkatan daya saing. Dengan fundamental ekonomi yang kuat, perbankan diharapkan mampu mempertahankan pertumbuhan sehat dan berkelanjutan serta memperkuat ketahanan menghadapi tantangan global.

SBPO dilaksanakan OJK setiap triwulan untuk memotret arah perekonomian, persepsi industri terhadap risiko, serta kecenderungan bisnis perbankan. IBP menggunakan rentang nilai 1–100. Nilai di atas 50 menunjukkan optimisme, nilai 50 berarti stabil, sedangkan nilai di bawah 50 mencerminkan pesimisme. (Rls)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI