JMW Tegaskan PKB Merawat Jati Diri Budaya, Bukan Panggung Politik

Screenshot_20260614_114235_InCollage - Collage Maker
Jero Mangku Ketut Wisna (JMW) dan penampilan gong gede Desa Adat Kesiman pada Peed Aya PKB XLVIII tahun 2026 di Denpasar, Sabtu (13/6/2026). (barometerbali/red)

PESTA Kesenian Bali (PKB) pada hakikatnya bukanlah ruang untuk mempertontonkan kepentingan politik, melainkan wahana kebudayaan yang lahir dari kesadaran kolektif masyarakat Bali untuk menjaga, mengembangkan, dan mewariskan nilai-nilai seni, budaya, serta tradisi kepada generasi penerus.

Sejak digagas oleh Gubernur Bali Prof. Dr. Ida Bagus Mantra pada tahun 1979, PKB dirancang sebagai media pelestarian kebudayaan Bali di tengah tantangan modernisasi dan globalisasi. PKB menjadi ruang perjumpaan para seniman, budayawan, akademisi, masyarakat adat, dan pemerintah dalam satu semangat menjaga keberlanjutan budaya Bali.

Secara filosofis, PKB merupakan manifestasi semangat ngayah dan pengabdian budaya. Kesenian yang ditampilkan bukan sekadar hiburan, melainkan representasi nilai-nilai luhur yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Tari, tabuh, sastra, seni rupa, hingga berbagai ekspresi budaya lainnya merupakan hasil proses panjang pewarisan pengetahuan yang telah membentuk identitas dan jati diri masyarakat Bali.

Berita Terkait:  Tim Kesenian Peed Aya Duta Kota Denpasar Mantapkan Kesiapan Tampil di Pembukaan PKB Tahun 2026

Karena itu, PKB harus dipahami sebagai upaya merawat memori kolektif kebudayaan Bali agar tetap hidup, relevan, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan akar tradisinya.

Keberhasilan PKB selama hampir lima dekade juga tidak lahir secara instan. Di balik setiap penampilan di panggung, terdapat proses pembinaan, seleksi, pelatihan, dan pendampingan yang berlangsung sepanjang tahun. Proses tersebut melibatkan Dinas Kebudayaan, pemerintah kabupaten/kota, desa adat, sanggar seni, akademisi, budayawan, hingga para maestro seni Bali.

Berita Terkait:  Duta Kota Denpasar Tampil Apik di Peed Aya Pembukaan PKB XLVIII

Hal ini menunjukkan bahwa PKB bukan sekadar festival tahunan, melainkan sebuah ekosistem pembinaan budaya yang berkesinambungan. Peran desa adat menjadi sangat penting sebagai benteng utama pelestarian tradisi, sekaligus ruang regenerasi seniman dan pewarisan nilai-nilai budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Hingga penyelenggaraannya pada tahun 2026, PKB tetap konsisten menjadi ruang ekspresi budaya yang menghadirkan beragam kreativitas masyarakat Bali, mulai dari Peed Aya, Rekasadana, Wimbakara, Kandarupa, Widyatula, hingga Kriyaloka. Ragam kegiatan tersebut mencerminkan komitmen Pemerintah Provinsi Bali bersama masyarakat adat untuk menempatkan kebudayaan sebagai fondasi pembangunan Bali.

Berita Terkait:  Didukung Pemprov Bali, JMW Sebut Karya Agung di Pura Payogan Segara Rupek Perkuat Spirit Jaga Jati Diri Bali

Oleh karena itu, memandang PKB semata-mata sebagai panggung seremonial, apalagi sebagai arena politik, merupakan penyederhanaan yang mengabaikan makna substansialnya. PKB adalah ruang peradaban yang menegaskan bahwa kebudayaan Bali bukan sekadar warisan masa lalu yang dikenang, melainkan identitas hidup yang terus dirawat, dipelajari, dikembangkan, dan diwariskan.

Melalui PKB, masyarakat Bali sesungguhnya sedang memperkuat akar budayanya, menjaga jati diri kolektifnya, serta memastikan warisan luhur para leluhur tetap lestari di tengah arus perubahan zaman.

Dumugi Rahayu

JMW (Jero Mangku Ketut Wisna)

Tokoh Adat Bali

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI