Barometer Bali | Denpasar – Gubernur Bali Wayan Koster memberikan apresiasi terhadap berbagai inovasi yang ditampilkan dalam Peed Aya atau Pawai Agung Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026.
Menurutnya, penyelenggaraan tahun ini tidak hanya mempertahankan kualitas seni dan budaya, tetapi juga menghadirkan nilai edukasi, inklusivitas, serta kepedulian terhadap lingkungan sehingga menjadikan PKB semakin berkualitas dan menarik.
Salah satu hal yang mendapat perhatian
Gubernur Koster adalah keterlibatan peserta anak-anak dalam hampir seluruh kontingen kabupaten/kota di Bali. Bahkan, Kota Denpasar tercatat sebagai daerah dengan jumlah peserta anak-anak terbanyak dalam Peed Aya tahun ini. Kehadiran generasi muda tersebut dinilai sebagai bentuk nyata regenerasi seni budaya Bali sekaligus memastikan tradisi tetap hidup dan diwariskan sejak usia dini.
“Keterlibatan anak-anak merupakan investasi budaya yang sangat penting. Mereka bukan hanya tampil di panggung, tetapi sedang belajar mencintai, memahami, dan menjaga identitas Bali untuk masa depan,” ungkapnya.
Selain itu, Gubernur Koster juga mengapresiasi keikutsertaan penyandang disabilitas atau difabel dalam beberapa kontingen Peed Aya. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa ruang kebudayaan Bali semakin terbuka dan inklusif, memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh masyarakat untuk berkarya dan berpartisipasi dalam pelestarian budaya.
Menurutnya, seni dan budaya merupakan milik bersama sehingga harus dapat dinikmati dan diikuti oleh semua kalangan tanpa memandang perbedaan kemampuan fisik. Semangat inklusivitas tersebut menjadi nilai tambah yang memperkuat citra PKB sebagai perayaan budaya yang merangkul seluruh lapisan masyarakat.
Inovasi lainnya yang mendapat apresiasi adalah langkah kontingen Kabupaten Tabanan yang langsung melakukan pembersihan sampah usai melintas di jalur pawai. Aksi sederhana namun bermakna itu dinilai sebagai contoh nyata implementasi budaya bersih dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Langkah tersebut sejalan dengan komitmen Pemerintah Provinsi Bali dalam memperkuat Gerakan Bali Bersih Sampah serta membangun kesadaran bahwa pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan.
Gubernur Koster menilai ketiga inovasi tersebut membuktikan bahwa PKB terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman tanpa meninggalkan akar tradisi.
“Perpaduan antara regenerasi melalui keterlibatan anak-anak, semangat inklusivitas dengan mengikutsertakan difabel, serta kepedulian terhadap lingkungan melalui aksi bersih sampah menjadikan Peed Aya PKB XLVIII tampil lebih berkualitas, edukatif, humanis, dan semakin menarik bagi masyarakat maupun wisatawan,” tandas Gubernur Koster.
Dengan mengusung tema “Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha”, PKB XLVIII tidak hanya menjadi panggung seni budaya, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran kolektif untuk memperkuat jati diri Bali, membangun kebersamaan, serta menanamkan nilai-nilai pelestarian budaya dan lingkungan kepada generasi penerus. (red)










