Kelangkaan BBM di Bali, Warga Antre Berjam-jam hingga Beli Pertamax Rp50 Ribu per Botol

IMG-20261014-WA0127
BALI KRISIS BBM - Antrian kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Denpasar, Bali, Pada Rabu (14/10/2026). (Barometerbali/Istimewa)

Barometer Bali | Denpasar –  Memasuki hari ketiga, antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Denpasar, Bali, belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Pada Rabu (14/10/2026), antrian kendaraan dilaporkan mengular hingga beberapa kilometer, sementara warga terpaksa menunggu berjam-jam demi mendapatkan bahan bakar minyak (BBM).

Berdasarkan pantauan menunjukkan antrean panjang terjadi di sejumlah SPBU, di antaranya di Jalan Tukad Yeh Aya, kawasan Sesetan–Sidakarya, SPBU dekat TNI Angkatan Laut di Sesetan, serta SPBU di samping kampus STIKOM Bali. Di beberapa titik, antrean dilaporkan mencapai sekitar tiga hingga empat kilometer.

Di kawasan Sesetan–Sidakarya, antrean sepeda motor untuk mendapatkan Pertalite dan Pertamax mengular hingga Jalan Ceningan Sari, dekat Burger King. Antrean bahkan sudah terbentuk sejak sekitar pukul 08.00 WITA, ketika SPBU yang dituju warga masih belum beroperasi.

Kondisi serupa terlihat di SPBU dekat TNI Angkatan Laut, Sesetan. Antrean kendaraan memanjang hingga Jalan Gurita, di depan Lapangan Pegok, Denpasar Selatan. Sementara itu, di SPBU Jalan Tukad Yeh Aya, sejumlah warga disebut telah mengantre sejak pukul 02.00 WITA.

Berita Terkait:  Sempat Bersembunyi, 4 WNA Nigeria Diamankan TIMPORA Tabanan

Kade Ayu (39), seorang ibu rumah tangga yang ditemui di lokasi antrian, mengaku sudah menunggu sejak pukul 04.00 WITA. Saat itu, SPBU belum dibuka.

“Iya, Pak, saya sudah ikut antre sejak subuh tadi, tetapi SPBU masih belum buka. Katanya pukul 09.00 WITA. Ini menghabiskan waktu saya,” ujarnya.

Ia mengatakan, BBM dibutuhkan untuk menunjang berbagai keperluan keluarga, mulai dari mengantar anak ke sekolah, berbelanja ke pasar, hingga mendukung aktivitas kerja suaminya.

“Motor saya sudah hampir kehabisan BBM. Ini untuk antar anak sekolah, ke pasar, dan keperluan suami bekerja. Suami saya masuk kerja siang ini setelah pulang malam. Bagaimana kalau tidak ada BBM? Suami saya bisa tidak bekerja,” katanya.

Di tengah antrean panjang, seorang pedagang BBM eceran menawarkan Pertamax dalam botol air mineral berukuran 1,5 liter dengan harga Rp50.000 per botol. Sejumlah warga yang mendengar tawaran tersebut langsung berebut untuk membeli.

Berita Terkait:  Gubernur Koster Apresiasi Jawaban Fraksi DPRD, Siap Kolaborasi Sempurnakan Perubahan APBD

Kade Ayu mengaku beruntung mendapatkan satu botol setelah ikut berebut dengan warga lainnya.

Pedagang tersebut mengaku hanya membawa lima botol Pertamax untuk dijual kepada warga yang mengantre. Ia mengatakan harus menghabiskan waktu hingga lima jam untuk mendapatkan BBM yang kemudian dijual kembali.

Menurut pedagang itu, keuntungan yang diperoleh relatif kecil jika dibandingkan dengan waktu yang dihabiskan untuk mengantre. Namun, tingginya minat pembeli membuatnya tetap menawarkan BBM tersebut kepada warga yang membutuhkan.

Sementara itu, antrean panjang di sejumlah SPBU turut berdampak terhadap kelancaran lalu lintas. Aparat kepolisian bersama petugas Dinas Perhubungan turun ke lapangan untuk mengatur kendaraan dan mengantisipasi kemacetan, terutama di jalur satu arah yang terdampak antrean.

Warga berharap pemerintah dan pihak terkait segera menyelesaikan persoalan pasokan BBM yang berlarut-larut. Mereka menilai sepeda motor masih menjadi sarana transportasi utama untuk menunjang aktivitas sehari-hari di Bali.

Sejumlah warga mengaku kesulitan jika harus beralih menggunakan transportasi daring karena akan menambah pengeluaran harian. Sementara itu, membeli kendaraan listrik juga membutuhkan biaya tambahan yang tidak sedikit bagi masyarakat berpenghasilan terbatas.

Berita Terkait:  Gempa M5,0 Guncang Lombok Barat, Terasa hingga Denpasar, Tak Berpotensi Tsunami

Di tengah situasi tersebut, pesan berantai yang mengajak masyarakat mengikuti aksi solidaritas atas kelangkaan BBM juga beredar melalui WhatsApp. Seruan tersebut mengajak pemuda, mahasiswa, pelajar, pekerja, dan berbagai elemen masyarakat Bali untuk menyampaikan aspirasi terkait penanganan pasokan BBM.

Dalam pesan itu, aksi solidaritas dijadwalkan berlangsung pada Rabu (14/10/2026) pukul 09.45 WITA di Kantor Pertamina, Jalan Sugianyar, Denpasar.

Penggagas aksi dalam pesan tersebut menilai kelangkaan BBM telah merugikan berbagai kelompok masyarakat, mulai dari pelajar, pekerja, petani, nelayan, hingga pelaku usaha. Mereka mendesak agar persoalan tersebut segera ditangani dan tidak terus berlarut-larut.

Hingga berita ini ditulis, antrean panjang di sejumlah SPBU Denpasar masih menjadi persoalan yang dikeluhkan warga. Masyarakat berharap distribusi BBM segera kembali normal agar aktivitas sehari-hari tidak terus terganggu. (rian)***

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI