Plastik Masa Depan: Larut di Laut, Kuat di Darat

Screenshot_20250602_125056_InCollage - Collage Maker
Para peneliti di RIKEN Center for Emergent Matter Science (CEMS) berhasil menciptakan jenis plastik baru yang kuat, fleksibel, dan benar-benar ramah lingkungan. (barometerbali/red)

SEBUAH terobosan datang dari Jepang. Para peneliti di RIKEN Center for Emergent Matter Science (CEMS) berhasil menciptakan jenis plastik baru yang kuat, fleksibel, dan benar-benar ramah lingkungan. Tidak seperti plastik biasa yang mencemari laut dan berubah menjadi mikroplastik, plastik ini bisa terurai sepenuhnya di air laut dan tanah.

Plastik ini dibuat dari dua monomer ionik yang membentuk jembatan garam antarmolekul, ditambah natrium heksametafosfat—zat aditif yang biasa ditemukan dalam makanan. Setelah terurai, bahan ini bahkan memperkaya tanah dengan fosfor dan nitrogen, layaknya pupuk alami. Dalam uji laboratorium, lembaran plastik ini sepenuhnya larut dalam tanah hanya dalam waktu 10 hari.

Berita Terkait:  Bukan 'Omon Omon' SMSI Bali Komitmen Rawat 1000 Mangrove yang Ditanam di Tahura

Yang lebih menarik, plastik ini dapat dirancang dengan berbagai karakteristik—keras, fleksibel, tahan beban, bahkan menyerupai karet silikon—menyesuaikan kebutuhan industri. Ia juga bebas racun, tidak mudah terbakar, dan dapat dibentuk ulang pada suhu di atas 120°C.

“Material ini mewakili generasi baru plastik yang tidak menghasilkan mikroplastik dan bisa didaur ulang secara berkelanjutan,” kata Tazuko Aida, pemimpin tim peneliti.

Berita Terkait:  Udayana Ungkap Hasil Uji Lab, Cemaran Minyak Solar di Mangrove

Sementara Itu, Perjanjian Global Plastik Masih Mandek

Ironisnya, kabar baik ini hadir di tengah macetnya negosiasi global soal pengurangan polusi plastik. Dalam pertemuan kelima Komite Negosiasi Antarpemerintah PBB (INC-5) di Busan, Korea Selatan, lebih dari 200 negara gagal mencapai kesepakatan soal pembatasan produksi plastik.

Draf perjanjian yang dirilis di hari terakhir penuh dengan tanda kurung—tanda ketidaksepakatan. Isu penting seperti target pengurangan plastik, regulasi bahan kimia berbahaya, dan pendanaan untuk negara berkembang masih diperdebatkan. Negara-negara Global Selatan menyebut rancangan tersebut tidak cukup ambisius dan gagal menyentuh akar masalah.

Berita Terkait:  Beach Clean Up di Pantai Kelan Berhasil Kumpulkan 2,25 Ton Sampah

Lebih dari 100 negara, termasuk negara kepulauan kecil dan negara-negara Afrika, mendorong target global pengurangan produksi plastik. Namun pembahasan harus dilanjutkan tahun depan, membuat target PBB untuk memiliki perjanjian yang mengikat pada akhir 2024 tidak tercapai. (red)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI