Wagub Rano Karno Sebut Jakarta sebagai Kota Ekonomi Nasional dan Kota Global

IMG-20250612-WA0085
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno Saat menghadiri acara Bali dan Beyond Travel Fair (BBTF), di Bali International Convertion Center (BICC) nusa dua, kamis (12/6/2025) (barometerbali/rian)

Barometer Bali|Denpasar – Wakil Gubernur Jakarta, Rano Karno, menyampaikan sejumlah langkah strategis untuk membangkitkan sektor pariwisata dan industri kreatif di Jakarta. Rano mengakui bahwa Jakarta selama ini tertinggal dalam memanfaatkan potensi wisatanya meskipun memiliki infrastruktur dan fasilitas lengkap.

Hal tersebut disampaikan Rano saat menghadiri acara Bali dan Beyond Travel Fair (BBTF), di Bali International Convention Center (BICC) nusa dua, kamis (12/6/2025.)

“Jakarta punya wisata, tapi tidak punya pariwisata,” tegas Rano.

Ia juga, menyoroti fakta kontras bahwa Bandara Soekarno-Hatta melayani lebih dari 70 juta penumpang per tahun, namun kunjungan wisatawan asing ke Jakarta hanya menyentuh angka 1 juta.

Berita Terkait:  Ahli Sebut Pasal Pemidanaan Kakanwil BPN Bali Kadaluarsa, Status Tersangka harus Gugur Demi Hukum

Rano yang baru menjabat selama empat bulan sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta itu mengungkapkan bahwa Jakarta kini berstatus sebagai kota ekonomi nasional dan kota global, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024.

Ia menyebut bahwa Jakarta memiliki Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sebesar Rp91 triliun dan sisa lebih pembiayaan anggaran (Silpa) sebesar Rp4,8 triliun yang bisa dimanfaatkan untuk kolaborasi, termasuk dengan Provinsi Bali.

Dalam upaya mendorong revitalisasi wisata, Rano mengungkapkan rencana kerja sama dengan 10 hotel di Jakarta agar menghadirkan atraksi budaya Betawi. Langkah ini diklaim sebagai stimulus awal agar Jakarta tidak hanya menjadi tempat menginap, tetapi juga destinasi atraktif.

Berita Terkait:  Tri Wibowo Aji Resmi Pimpin BPKP Provinsi Bali

Lebih jauh, Rano mengungkap ambisinya menjadikan Jakarta sebagai Kota Cinema. Ia baru saja menghadiri Festival Film Cannes di Prancis, yang menurutnya adalah pasar global film sekaligus ajang promosi kota yang sangat efektif.

“Jakarta perlu memiliki Film Commission, seperti kota-kota besar dunia lainnya. Lewat film, kita bisa memperkenalkan wajah Jakarta ke mata dunia,” imbuhnya.

Ia mencontohkan bagaimana film yang diproduksi di Bangladesh dan tayang di Netflix bisa meraih 120 juta penonton dan berdampak langsung pada citra negara tersebut. Menurutnya, potensi ini bisa diterapkan di Jakarta, apalagi mengingat industri film Indonesia pada tahun 2024 mencatat 84 juta penonton.

Berita Terkait:  Gubernur Koster Lantik Enam Pimpinan Tinggi Pratama di Lingkungan Pemprov Bali

Sayangnya, kata Rano, pelaku film lokal masih kesulitan mendapat pendanaan karena tidak adanya jaminan atau kolateral yang diakui perbankan.

“Intelektual properti (IP) dalam industri kreatif adalah aset, tapi belum diakui oleh bank sebagai jaminan,” keluh Rano, sembari menyebut nama-nama besar seperti Iko Uwais dan Joko Anwar yang sukses menembus pasar internasional.

Selain itu, Rano menegaskan bahwa upaya Jakarta bukan untuk menyaingi Bali sebagai destinasi utama, melainkan untuk membangun kekuatan baru berbasis budaya dan industri kreatif.

“Kalau Bali kuat di turisme, maka Jakarta ingin punya identitas sebagai kota film dunia,” pungkas Rano Karno. (rian)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI