Barometer Bali | Denpasar — Rektor Universitas Hindu Indonesia (UNHI), Prof Dr drh I Made Damriyasa, MS, menegaskan bahwa seluruh proses dan hasil seleksi calon rektor sepenuhnya menjadi tanggung jawab Panitia Seleksi (Pansel). Ia menilai, transparansi dan profesionalitas merupakan kunci utama menjaga marwah kampus sebagai institusi akademik yang menjunjung tinggi integritas.
“Mekanismenya tinggal menunggu satu tahap lagi, yaitu penentuan salah satu dari tiga calon rektor yang telah mengikuti seleksi,” ujar Prof Damriyasa, Rektor UNHI periode 2018–2022 dan 2022–2026, di Denpasar.
Menanggapi dinamika yang muncul terkait proses seleksi, termasuk adanya calon rektor yang mengaku belum diberi tahu soal tujuh kriteria penilaian maupun ketidaklolosan calon bergelar profesor, Prof Damriyasa menyebut hal itu wajar terjadi dalam sebuah kompetisi terbuka.
“Dalam proses seleksi tentu ada dinamika. Mengenai mengapa tidak ada profesor yang lolos, panitia seleksi memiliki kewenangan penuh. Mungkin ada calon lain yang meski bukan profesor, tetapi memiliki prestasi luar biasa. Prestasi semacam itu perlu ditunjukkan ke publik agar keputusan pansel tidak diragukan,” jelasnya.
Terkait ketidakikutsertaannya dalam Pansel, Prof. Damriyasa mengaku lebih memilih fokus menyelesaikan tugas-tugas akhir masa jabatannya yang tinggal dua bulan lagi.
“Saya memang fokus untuk menyelesaikan tugas akhir sebagai rektor. Jadi, semua proses seleksi saya serahkan sepenuhnya kepada pansel,” tegasnya.
Saat ditanya soal persetujuan terhadap tiga calon rektor yang telah diseleksi, Prof. Damriyasa menegaskan kembali bahwa seluruh keputusan merupakan tanggung jawab panitia.
“Karena prosesnya sudah diserahkan ke pansel, maka pansel-lah yang bertanggung jawab penuh terhadap keputusan yang diambil,” pungkas Prof Damriyasa.
Diberitakan sebelumnya, proses pemilihan Rektor Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar memicu tanda tanya besar di kalangan akademisi dan alumni. Dari sepuluh calon yang mendaftar, tujuh orang tiba-tiba dieliminasi sebelum tahap debat publik tanpa penjelasan yang jelas dari panitia seleksi.
Salah satu Alumni UNHI, Dewa Putu Sudarsana mengungkapkan bahwa seluruh calon awalnya dinyatakan lolos seleksi administrasi. Namun, menjelang debat publik, tujuh kandidat mendadak dicoret tanpa alasan terbuka.
“Keputusan itu terkesan tergesa dan menimbulkan pertanyaan besar soal dasar penilaian. Seharusnya semua calon diberi kesempatan tampil agar publik dan sivitas akademika bisa menilai langsung,” tegasnya saat ditemui di Denpasar, Senin (27/10/2025)
Menurutnya, proses pemilihan yang tidak terbuka berpotensi menurunkan kepercayaan publik terhadap hasil seleksi.
“Transparansi penting agar hasilnya diterima semua pihak dan mencerminkan nilai moral serta integritas,” tambahnya.
Dewa Sudarsana menuturkan proses pemilihan Rektor Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar periode 2026-2030 dinilai janggal. Pasalnya, sejumlah kandidat dengan gelar profesor dieliminasi sebelum tahap debat publik.
Dewa Sudarsana pun mempertanyakan dasar keputusan Pansel meloloskan para doktor dan eliminasi para profesor.
“Apa parameter seorang ketua pansel memilih doktor dan apa ukurannya mereka menolak profesor?” tanya salah satu Pendiri Fakultas Teknik UNHI Denpasar ini.
Ditemui usai acara Debat Terbuka Calon Rektor UNHI, Ketua Pansel Calon Rektor UNHI di kampus setempat pada 30 Oktober 2025, Prof. Dr dr I Wayan Wita, SpJP (K) FAsCC, menyebut proses seleksi dilakukan berdasarkan prinsip multi assessor agar objektif dan bebas dari bias. Pansel terdiri dari unsur Pembina, Pengurus, dan Pengawas Yayasan Pendidikan Widya Kerthi (YPWK), serta unsur Senat dan Alumni UNHI.
“Langkah ini sudah sesuai Statuta UNHI yang menegaskan keterlibatan penuh Senat dalam memberikan rekomendasi akademik kepada Badan Penyelenggara YPWK sebelum penetapan rektor baru,” terangnya.
Ia menegaskan bahwa seluruh proses sudah sesuai dengan statuta universitas.
“Penilaian dilakukan melalui berbagai instrumen, termasuk tes psikometrik dan studi kasus oleh pihak independen,” beber Prof Wita.
Anggota Pansel dari unsur Senat, Prof Dr I Putu Gelgel, SH, MHum, menjelaskan penilaian dilakukan berdasarkan tujuh kriteria utama: nilai dan budaya, visi dan strategi, akademik, kepemimpinan, tata kelola, jejaring kemitraan, serta inovasi dan teknologi.
“Metode Assessment Centre kami terapkan agar penilaian lebih menyeluruh dan adil. Prosesnya melibatkan psikotes, studi kasus, diskusi kelompok, presentasi visi, hingga wawancara mendalam,” jelas Prof Gelgel.
Diberitakan sebelumnya, proses pemilihan Rektor Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar memicu tanda tanya besar di kalangan akademisi dan alumni. Dari sepuluh calon yang mendaftar, tujuh orang tiba-tiba dieliminasi sebelum tahap debat publik tanpa penjelasan yang jelas dari panitia seleksi.
Salah satu Alumni UNHI, Dewa Putu Sudarsana mengungkapkan bahwa seluruh calon awalnya dinyatakan lolos seleksi administrasi. Namun, menjelang debat publik, tujuh kandidat mendadak dicoret tanpa alasan terbuka.
“Keputusan itu terkesan tergesa dan menimbulkan pertanyaan besar soal dasar penilaian. Seharusnya semua calon diberi kesempatan tampil agar publik dan sivitas akademika bisa menilai langsung,” tegasnya saat ditemui di Denpasar, Senin (27/10/2025)
Menurutnya, proses pemilihan yang tidak terbuka berpotensi menurunkan kepercayaan publik terhadap hasil seleksi.
“Transparansi penting agar hasilnya diterima semua pihak dan mencerminkan nilai moral serta integritas,” tambahnya.
Dewa Sudarsana menuturkan proses pemilihan Rektor Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar periode 2026-2030 dinilai janggal. Pasalnya, sejumlah kandidat dengan gelar profesor dieliminasi sebelum tahap debat publik.
Dewa Sudarsana pun mempertanyakan dasar keputusan Pansel meloloskan para doktor dan eliminasi para profesor.
“Apa parameter seorang ketua pansel memilih doktor dan apa ukurannya mereka menolak profesor?” tanya salah satu Pendiri Fakultas Teknik UNHI Denpasar ini.
Sementara imbuh Dewa Sudarsana, kandidat dengan gelar doktor diloloskan oleh panitia seleksi (Pansel) ke tahap selanjutnya.
“Pertanyaannya itu, kenapa dari sekian profesor tidak ada yang lolos? sekarang pansel bilang tidak memilih rektor, tapi memilih calon, nah calon-calon itu yang harus memiliki kapabilitas untuk menjadi calon seorang rektor terpilih,” pungkas Dewa Sudarsana
Hal senada disampaikan beberapa calon rektor yang tersingkir. Mereka menilai mekanisme seleksi UNHI kali ini janggal dan rawan subjektivitas.
“Semua ditentukan oleh panitia tanpa ukuran yang jelas, seolah-olah berdasarkan faktor suka dan tidak suka,” ungkap salah satu calon yang tak mau disebutkan namanya.
Ia juga menyoroti struktur panitia seleksi yang dinilai kurang berpengalaman. Dari tujuh orang, hanya satu yang pernah menjabat rektor.
“Lucu saja, yang menilai calon rektor malah sebagian besar belum pernah jadi rektor,” sentilnya.
Meski menerima hasil seleksi, ia berharap ke depan ada perbaikan menyeluruh agar mekanisme lebih transparan dan objektif.
“Syarat dan mekanisme perlu ditinjau ulang agar rektor yang terpilih punya bekal kompetensi yang kuat,” harapnya.
Adapun nama-nama Calon Rektor UNHI yakni:
(1) Dr. I Komang Gede Santhyasa, ST., MT.
(2) Prof. Dr. Ir. I Wayan Muka, ST, MT, IPU, ASEAN, Eng.
(3) Prof. Dr. I Gede Putu Kawiana, SE, MM.
(4) Dr. Cokorda Gde Bayu Putra, SE, MSi (5) Prof Dr Ir Euis Dewi Yuliana, MSi.
(6) Dr Dewa Nyoman Benni Kusyana, SE, MM.
(7) Dr. Drs. I Putu Sarjana, MSi
(8) Dr. Ir. I Wayan Jondra, MSi
(9) Dr. Ida I Dewa Ayu Yayati Wilyadewi, SE, MM
(10) Prof. Dr. Drs. I Wayan Winaja, M.Si.
Hasil Seleksi Calon Rektor UNHI
Berdasarkan hasil seleksi dari Panitia Seleksi yang diketuai Prof Wayan Wita, terhadap 10 Calon Rektor dengan menggunakan multi metode yang terdiri dari test Psychometry Emotional Intelligence (EI) yang dilaksanakan pada Jumat 10 (sepuluh) Oktober 2025, Self-Description Assessment (Penilaian Deskripsi Diri), Case Study (Studi Kasus), Leaderless Group Discussion (LGD) yang dilaksanakan pada Senin 20 Oktober 2025, Presentasi Visi Misi, Strategi Pengembangan, Program Kerja dan Komitmen Memajukan UNHI yang dilaksanakan dua hari yakni Selasa 21 Oktober 2025 dan Rabu 22 Oktober 2025, Panitia Seleksi Calon Rektor UNHI memutuskan 3 (tiga) nama Calon Rektor yang berhak mengikuti Debat Terbuka di hadapan Senat dan unsur Civitas Akademika.
Tiga nama Calon Rektor terpilih adalah:
(1) Dr. Cokorda Gde Bayu Putra, SE., M.Si.
(2) Dr. I Komang Gede Santhyasa, ST., MT.
(3) Dr. Drs. I Putu Sarjana, M.Si.
Debat Terbuka Calon Rektor UNHI Denpasar telah dilakukan di Aula Taman Asoka UNHI pada Kamis, (30/10/2025). (rah)











