Barometer Bali | Denpasar – Kematian ratusan pohon mangrove di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai memicu kekhawatiran serius. Hasil penelitian tim akademisi mengungkap dugaan kuat bahwa pencemaran bahan bakar minyak (BBM) menjadi penyebab utama degradasi ekosistem di wilayah Bali Selatan tersebut.
Kajian yang disusun tim peneliti dari Universitas Udayana ini menemukan bahwa kematian mangrove terjadi secara masif dan tidak alami.
Tim Peneliti dari Rumah Sakit Pertanian Universitas Udayana (Unud) yang dikoodinatori Dr Dewa Gede Wiryangga Selangga, SP, MSi, menyampaikan bahwa penelitian dilakukan bersama tim yang terdiri dari Dr Listihani, SP, MSi, Ni Nyoman Sista Jayasanti, SP, MBiotech, Restiana Maulinda, SP, MSi, Wafa’ Nur Hanifah, SP, MSi, dan Yuli Evrianti Br. Raja Gukguk, AMd.
“Kami tidak menemukan indikasi serangan penyakit akibat patogen. Kematian mangrove ini disebabkan faktor abiotik, terutama keracunan logam berat dan senyawa hidrokarbon dari minyak,” beber Dewa.
Menurutnya, gejala awal yang ditemukan meliputi daun menguning (klorosis), nekrosis, kulit batang mengelupas, hingga busuk akar. Pola kematian terjadi dalam satu blok vegetasi, bukan menyebar acak, yang menguatkan dugaan kontaminasi kimia.
Peneliti juga mengungkap adanya indikasi kuat keterkaitan dengan aktivitas infrastruktur energi di sekitar kawasan, termasuk jalur pipa BBM milik Pertamina yang melintas di area tersebut.
“Minyak yang meresap ke dalam sedimen mangrove sangat berbahaya. Ia menutup pori-pori tanah dan akar, serta mengandung senyawa aromatik yang merusak sel tanaman. Dampaknya bisa mematikan dalam waktu singkat,” jelasnya.
Data lapangan menunjukkan bahwa pada periode September hingga November 2025 terdapat aktivitas perawatan pipa distribusi dari Pelabuhan Benoa menuju instalasi di Pesanggaran. Diduga terjadi rembesan minyak yang tidak sepenuhnya dibersihkan.

Meski pihak Pertamina Patra Niaga tidak menemukan lapisan minyak di permukaan saat inspeksi Februari 2026, peneliti menegaskan bahwa kontaminasi kemungkinan besar berada di dalam sedimen.
“Kontaminasi hidrokarbon di ekosistem mangrove sering tidak terlihat di permukaan. Polutan berada di bawah tanah dan terus meracuni akar,” tegas Dewa.
Selain itu, faktor perubahan hidrologi akibat pembangunan seperti Jalan Tol Bali Mandara disebut turut memperparah kondisi karena menyebabkan polutan terperangkap di area tertentu.
Tim peneliti pun mendesak investigasi forensik lingkungan secara menyeluruh, audit infrastruktur energi, serta langkah pemulihan seperti bioremediasi dan rehabilitasi substrat mangrove.
“Tanpa tindakan cepat dan tegas, ekosistem mangrove di Bali Selatan terancam terus mengalami kerusakan. Ini bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga menyangkut perlindungan pesisir dan keberlanjutan pariwisata Bali,” pungkas Dr Dewa Gede Wiryangga Selangga. (red)










