Barometer Bali | Denpasar – Desa Wisata Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, kembali akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Jatiluwih Festival VII pada 20–21 Juni 2026. Tahun ini, festival tersebut mendapat pengakuan bergengsi setelah resmi masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 yang ditetapkan Kementerian Pariwisata RI.
Masuknya Jatiluwih Festival ke dalam kalender KEN menjadi apresiasi tingkat nasional atas konsistensi pengelola dalam melestarikan budaya Bali, menjaga keasrian alam, serta mempertahankan sistem Subak yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO.
Lebih dari sekadar agenda hiburan dan promosi destinasi, festival ini juga dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal melalui keterlibatan pelaku UMKM, seniman, komunitas budaya, dan sektor pariwisata berbasis desa.
Manager Manajemen Operasional DTW Jatiluwih, John Ketut Purna, mengatakan Jatiluwih Festival VII menjadi momentum strategis dalam memperkuat arah pembangunan pariwisata Bali yang berkualitas dan berkelanjutan.
“Jatiluwih Festival VII bukan hanya perayaan budaya, tetapi juga representasi kebangkitan pariwisata Bali yang berorientasi pada kualitas dan keberlanjutan. Terpilihnya festival ini dalam KEN Kemenpar serta kolaborasi dengan ASITA melalui kegiatan Run 5K menunjukkan bahwa budaya, alam, dan olahraga dapat bersinergi untuk menggerakkan ekonomi masyarakat,” jelasnya saat konferensi pers di Denpasar, Rabu (27/5/2026).
Selama dua hari pelaksanaan, pengunjung akan disuguhi berbagai atraksi budaya dan kegiatan edukatif, mulai dari pementasan seni tradisional Bali di alam terbuka, pameran produk UMKM, sajian kuliner khas Tabanan, hingga edukasi mengenai sistem pertanian Subak yang menjadi identitas utama Jatiluwih.
Mengusung konsep sport tourism, festival tahun ini juga menghadirkan ajang Run 5K hasil kolaborasi dengan ASITA dalam rangka memperingati 100 Tahun Pariwisata Bali. Kegiatan tersebut ditargetkan diikuti sekitar 2.000 pelari dari berbagai daerah dan komunitas.
Panitia berharap Jatiluwih Festival VII tidak hanya mampu meningkatkan kunjungan wisatawan, tetapi juga semakin memperkuat posisi Jatiluwih sebagai destinasi wisata budaya dan alam kelas dunia yang mengedepankan keberlanjutan serta kesejahteraan masyarakat lokal. (red)










