Barometer Bali | Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan penguatan integritas pasar modal menjadi prioritas utama dalam mendorong akselerasi transformasi Pasar Modal Indonesia agar semakin efisien, transparan, terpercaya, dan inovatif.
Penegasan tersebut disampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi dalam peringatan 49 tahun diaktifkannya kembali Pasar Modal Indonesia di Jakarta, Senin (10/8).
Mengusung tema “Akselerasi Transformasi untuk Berdaulat, Mandiri, dan Maju Bersama”, peringatan HUT ke-49 Pasar Modal Indonesia turut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung, jajaran Anggota Dewan Komisioner OJK, Self-Regulatory Organization (SRO), asosiasi, serta pemangku kepentingan lainnya.
Friderica mengatakan OJK berkomitmen terus meningkatkan likuiditas, transparansi, tata kelola, penegakan hukum (enforcement), serta sinergitas sebagai bagian dari rencana aksi reformasi integritas pasar modal Indonesia.
Selain itu, OJK juga terus memperkuat kapasitas kelembagaan dan sistem pengawasan untuk memastikan pasar modal Indonesia semakin kredibel dan mampu mendukung pembiayaan pembangunan nasional.
Reformasi integritas pasar modal yang telah dilakukan turut mendorong pertumbuhan jumlah investor. Hingga saat ini, jumlah Single Investor Identification (SID) telah mencapai 30,27 juta atau tumbuh 48,67 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Friderica menilai peningkatan jumlah investor tersebut tidak sekadar menunjukkan pertumbuhan secara kuantitatif, tetapi juga mencerminkan meningkatnya kepercayaan dan harapan masyarakat terhadap pasar modal Indonesia.
Sementara itu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan peringatan 49 tahun diaktifkannya kembali Pasar Modal Indonesia menjadi momentum untuk terus menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian serta pasar keuangan nasional dan internasional.
Menurutnya, pasar modal selalu menjadi salah satu proksi kondisi perekonomian yang diperhatikan investor, terutama dalam momentum-momentum strategis.
“Saya apresiasi juga reformasi yang telah dilakukan dan berharap sektor keuangan makin kredibel dalam inovatif dan berdaya saing,” kata Airlangga.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung turut mengapresiasi reformasi integritas pasar modal yang dilakukan OJK bersama SRO. Reformasi tersebut diharapkan mampu menjadikan pasar modal sebagai katalis pertumbuhan ekonomi nasional yang semakin dalam, likuid, terpercaya, dan kredibel.
Pemerintah, kata Juda, mendukung agenda reformasi yang mencakup penguatan likuiditas, peningkatan transparansi, penguatan tata kelola, hingga pendalaman pasar.
OJK Luncurkan ETF Emas
Dalam peringatan HUT ke-49 Pasar Modal Indonesia tersebut, OJK juga meluncurkan Exchange Traded Fund (ETF) Emas sebagai produk investasi baru yang diperdagangkan di bursa saham.
Friderica menyebut ETF Emas menjadi salah satu quick win dari delapan rencana aksi OJK dalam upaya melakukan pendalaman pasar secara terintegrasi.
ETF Emas dinilai menawarkan instrumen investasi yang praktis dan likuid serta sesuai dengan prinsip syariah. Produk ini juga diharapkan dapat berfungsi sebagai safe haven sekaligus memperluas pasar bullion melalui kolaborasi antarlembaga dan pelaku industri.
Airlangga berharap kehadiran ETF Emas tidak hanya menambah pilihan investasi bagi masyarakat, tetapi juga mampu meningkatkan likuiditas pasar.
Juda Agung juga mendukung peluncuran ETF Emas yang diharapkan dapat memperluas basis investor, menambah keragaman instrumen investasi, meningkatkan likuiditas, sekaligus memperkuat tata kelola pasar modal.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan kehadiran ETF Emas diharapkan dapat memperkuat stabilitas pasar modal Indonesia melalui diversifikasi instrumen dan pilihan investasi bagi investor.
Penghimpunan Dana Capai Rp123,21 Triliun
Dari sisi kinerja, hingga 7 Agustus 2026 realisasi penghimpunan dana melalui pasar modal tercatat mencapai Rp123,21 triliun melalui 135 aksi korporasi. Sementara jumlah emiten di Pasar Modal Indonesia telah melampaui 962 perusahaan.
Jumlah investor juga terus mengalami peningkatan signifikan hingga mencapai 30,27 juta investor. Angka tersebut bertambah sekitar 9,8 juta investor, dengan mayoritas atau 78 persen di antaranya berusia di bawah 40 tahun.
Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana per 7 Agustus 2026 tercatat sebesar Rp667 triliun, sedangkan nilai Asset Under Management (AUM) berada di posisi Rp1.026 triliun.
Di sektor perdagangan karbon, volume transaksi akumulatif sejak 26 September 2023 hingga 7 Agustus 2026 mencapai 1,98 juta ton CO2 ekuivalen dengan nilai Rp93,89 miliar. Transaksi tersebut melibatkan 158 perusahaan dengan ketersediaan unit karbon mencapai 3,14 juta ton CO2 ekuivalen.
Hasan mengatakan capaian tersebut menunjukkan pasar modal Indonesia terus berkembang, baik dari sisi kemampuan menghimpun dana bagi dunia usaha maupun perluasan basis investor. Peningkatan dana kelolaan juga mencerminkan semakin berkembangnya pilihan dan kebutuhan investasi masyarakat.
Dalam MSCI Market Classification Review pada Juni 2026, Indonesia kembali dipertahankan dalam klasifikasi Emerging Market. Keputusan tersebut menjadi pengakuan terhadap berbagai upaya perbaikan yang dilakukan OJK bersama SRO dan seluruh pemangku kepentingan pasar modal.
OJK bersama SRO dan seluruh pemangku kepentingan juga terus mempercepat sejumlah inisiatif strategis, antara lain peningkatan persyaratan minimum free float menjadi 15 persen, penyusunan kerangka pengaturan mengenai High Shareholder Concentration (HSC), serta peningkatan transparansi kepemilikan saham.
Sesuai Roadmap PMDK 2022-2027, OJK juga terus mendorong sejumlah target strategis sebagai fondasi pengembangan pasar modal ke depan.
Pada fase akhir roadmap tersebut, terdapat empat target yang terus didorong, yakni pendalaman pasar melalui optimalisasi sisi supply, demand, dan peningkatan infrastruktur; peningkatan integritas pasar melalui efektivitas pengenaan sanksi dan peningkatan kualitas emiten serta perusahaan publik.
Selanjutnya, penguatan kelembagaan PUJK melalui pengembangan demutualisasi bursa, peningkatan kualitas penyelenggara Securities Crowdfunding (SCF), serta penguatan cybersecurity. Terakhir, pengembangan keuangan berkelanjutan melalui penambahan pengguna jasa baru di Bursa Karbon dan mendorong inovasi produk investasi berbasis pelestarian lingkungan atau Sustainable Fund.
Dengan berbagai agenda reformasi tersebut, OJK menargetkan pasar modal Indonesia semakin berintegritas, kompetitif, transparan, dan mampu berkontribusi optimal dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. (rah)










