Thursday, 22-02-2024
Pendidikan

Gung Adi Sabet Gelar Doktor Kajian Budaya

Foto: Dosen Institut Agama Hindu Negeri Palangka Raya Agung Adi raih gelar Doktor Kajian Budaya di Universitas Udayana. (BB/FIB/Unud)

Denpasar | barometerbali – Dosen Fakultas Dharmasastra, Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya, Kalimantan Tengah, berhasil mempertahankan disertasinya dalam ujian promosi doktor Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, di kampus FIB Unud Sanglah Denpasar, pada Senin (22/5/2023).

Agung Adi dinyatakan lulus setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konstruksi Identitas Kultural Hindu di Kota Palangka Raya” dalam ujian terbuka yang dipimpin Dekan FIB Unud yang diwakili oleh Wakil Dekan I, I Nyoman Aryawibawa, M.A., Ph.D.

Dalam proses riset dan penyusunan disertasi, Agung Adi dibimbing oleh promotor Prof. Drs. I Made Suastra, Ph.D. dan dua kopromotor masing-masing Prof. Dr. Ida Bagus Gde Yudha Triguna, M.S. dan Dr. Ida Bagus Gde Pujaastawa, M.A. Selain tim promotor, tampil sebagai tim penguji ujian promosi doktor adalah Prof. Dr. A.A. Ngurah Anom Kumbara, M.A., Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M. Hum., Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M. Litt., Dr. I Wayan Suwena, M. Hum., Dr. I Wayan Suardiana, M. Hum.

Ujian berlangsung lancar sekitar dua jam. Berdasarkan penilaian dewan penguji, Agung Adi dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan, dengan masa mendekati empat tahun.

Dr. Agung Adi merupakan lulusan doktor ke-271 di Prodi Doktor Kajian Budaya atau doktor ke-190 di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya FIB Unud.Dalam presentasinya, Agung Adi menyampaikan, bahwa Kota Palangka Raya pada era modern telah menjadi bagian penting dalam persebaran dan perkembangan agama Hindu di Indonesia.

Kota ini juga menjadi salah satu tempat yang memberikan ruang luas dalam proses konstruksi identitas kultural Hindu berdasarkan identitas etnik.

“Ada tiga kelompok etnik yang menganut agama Hindu di Kota Palangka Raya, yaitu etnik Dayak atau Hindu Kaharingan, Bali (Hindu Bali), dan Jawa (Hindu Jawa),” ujar promovendus kelahiran Sukadana, Lampung Tengah, Sumatera.

Menurut Agung Adi, Hindu Kaharingan memiliki keunikan karena menggabungkan unsur-unsur Hindu dengan kepercayaan tradisional suku Dayak. Etnik Bali atau Hindu Bali menggunakan Kitab Suci Weda (sruti) dan turunannya (ṡmṛti) serta sumber-sumber lontar sebagai sumber utama dalam praktik keagamaan. Etnik Jawa atau Hindu Jawa mengonstruksi simbol-simbol identitas etnik yang dapat ditemukenali melalui berbagai peralatan ritual serta organisasi primordial, yaitu Paguyuban Hindu Jawi (Pandu Jawi).

Lebih jauh, Agung Adi menyampaikan bahwa konstruksi simbol-simbol identitas kultural Hindu berdasarkan identitas etnik yang berbeda-beda menarik untuk dikaji.

“Karena secara konseptual bertalian dengan makna identitas yang juga selalu berubah, bersifat cair, secara terus-menerus dikonstruksi, direkonstruksi, dan dekonstruksi,” sebut Agung Adi.

Alasan lain tentang pentingnya fenomena identitas Hindu lintas etnik ini dikaji, menurut Agung Adi, adalah karena problematika ketika berhadapan dengan konteks individu dan sosial.

Disamping itu secara faktual hakikatnya telah terjadi pergulatan antarsesama pemeluk Hindu.Kebaruan penelitian ini terletak pada kajiannya yang terfokus pada identitas kultural Hindu yang terkonstruksi di luar Bali, yakni di Kota Palangka Raya. Kalau selama ini, konstruksi identitas Hindu banyak diteliti dalam konteks Bali, penelitian ini menunjukkan variasi dan dinamika konstruksi identitas kultural Hindu yang berbeda-beda di berbagai daerah di Indonesia. (BB/212)

Sumber: https://www.unud.ac.id/

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button